Internasional

AS Ungkap Master Plan Gaza Pasca-Perang: Menara Kaca dan Resor Mewah Gantikan Pusat Sejarah

Pada Kamis, 22 Januari 2026, sebuah peta rencana induk atau master plan Amerika Serikat untuk Gaza pascaperang dipresentasikan di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Rencana ambisius ini, yang dipaparkan oleh menantu mantan Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, menggambarkan Gaza sebagai lahan kosong siap bangun dengan proyek menara kaca, kawasan industri, hingga resor wisata mewah. Ironisnya, presentasi tersebut berlangsung tanpa melibatkan satu pun perwakilan dari warga Palestina Gaza.

Vegas-ifikasi Gaza: Rencana Ambisius Tanpa Warga Palestina

Jared Kushner, pengembang properti sekaligus menantu Donald Trump, menegaskan bahwa rencana ini adalah “satu-satunya skenario yang tersedia” dan “tidak ada rencana B.” Presentasinya di Davos menampilkan peta berwarna dan gambar visual hasil kecerdasan buatan (AI) yang memukau, sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Selasa, 27 Januari 2026.

Mantan Presiden Trump sendiri menggambarkan Gaza sebagai aset properti bernilai tinggi. “Saya ini orang properti. Semua tentang lokasi. Lihat pantainya, lihat betapa indahnya properti ini,” kata Trump, yang juga menyebut Gaza akan “didemiliterisasi, diatur dengan baik, dan dibangun kembali secara indah.”

Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa proyek ini mengharuskan penghapusan total struktur kota Gaza yang ada saat ini. Ini termasuk kamp pengungsi, rumah ibadah, hingga pusat pendidikan yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan warga.

Profesor Arsitektur dan Urbanisme Ali A Alraouf menyebut rencana ini sebagai “Vegas-ifikasi Gaza,” mengejar citra visual seperti Dubai atau Las Vegas dengan rancangan menara kaca dan marina. “Secara teknis, hal ini akan menciptakan komunitas tertutup yang dirancang untuk kelas ekonomi tertentu, bukan struktur kota yang tumbuh secara organik dan melayani kebutuhan penduduk lokal,” jelas Alraouf.

Kushner tidak menjelaskan sumber pendanaan proyek tersebut, hanya menyebut rekonstruksi Gaza sebagai proses “sangat kewirausahaan.” Pembangunan diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun, namun tidak ada penjelasan mengenai penyediaan tempat tinggal bagi ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi selama periode tersebut.

Gaza yang Rata dengan Tanah: Konteks Kehancuran dan Korban

Rencana pembangunan kembali ini muncul di tengah kenyataan pahit bahwa Israel telah menghancurkan atau merusak lebih dari 80 persen bangunan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Berbagai rumah sakit besar, universitas, sistem listrik dan air, jalan utama, serta layanan publik kini lumpuh total.

Perang yang berkecamuk telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina, sementara ribuan lainnya masih hilang dan diduga tertimbun di bawah sekitar 68 juta ton puing bangunan. Kondisi ini memperparah tantangan logistik dan kemanusiaan yang harus dihadapi.

Meskipun pembangunan diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun, pertanyaan besar muncul mengenai nasib ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi. Tidak ada penjelasan konkret mengenai tempat tinggal mereka selama proses rekonstruksi yang masif ini.

Masa Depan Politik Palestina dan Penghapusan Sejarah

Rencana master plan ini nyaris tidak menyinggung masa depan politik Palestina, termasuk soal hak kepemilikan tanah, penghentian pendudukan Israel, atau jalan menuju negara Palestina yang berdaulat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pengamat.

“Warga Palestina sama sekali tidak punya suara dalam rencana ini,” kata Tamer Qarmout, pakar kebijakan publik dari Doha Institute for Graduate Studies. Senada, analis Sultan Barakat menilai rencana ini tetap sejalan dengan kepentingan pendudukan Israel, menegaskan bahwa “gagasan mengusir warga Palestina dari Gaza tidak pernah benar-benar berakhir.”

Peta “Gaza Baru” yang dipresentasikan Kushner secara eksplisit menunjukkan penghapusan banyak kawasan ikonik Gaza. Kawasan wisata pesisir akan menggantikan Kamp Pengungsi Shati, sebagian besar Remal (lokasi RS Al-Shifa dan sejumlah universitas), serta seluruh Kamp Pengungsi Deir el-Balah dan sebagian besar Al-Mawasi.

Sementara itu, kawasan industri, data center, dan manufaktur akan berdiri di atas seluruh Beit Hanoon, hampir seluruh Beit Lahiya (sentra pertanian stroberi “emas merah”), dan seluruh Kota Tua Gaza, termasuk Masjid Agung Omari dan Gereja Saint Porphyrius. Setengah wilayah Shujayea dan Zeitoun juga akan diubah.

Taman, pertanian, dan fasilitas olahraga direncanakan untuk sebagian besar Kamp Pengungsi Jabalia, Daraj, Kamp Pengungsi Maghazi, serta Benteng Barquq. Kawasan permukiman baru akan dibangun di Sheikh Radwan, Sabra dan Tal al-Hawa, Kamp Pengungsi Nuseirat, serta sebagian Al-Mawasi.

Profesor Alraouf kembali menegaskan bahwa rencana ini lebih merupakan “fantasi properti” daripada perencanaan kota yang realistis. Ia bahkan berspekulasi bahwa puing bangunan yang ada kemungkinan akan digunakan untuk reklamasi laut, menciptakan lanskap buatan seperti yang terlihat dalam gambar AI.

Meskipun taman dan ruang hijau terdengar positif, pengalaman warga Palestina sendiri menunjukkan hal berbeda. Di Tepi Barat, area hijau sering ditetapkan sebagai zona militer Israel dengan akses ketat bagi warga Palestina. “Bagi Palestina, taman sering berarti pembatasan, bukan kebebasan,” tulis Al Jazeera.

Informasi lengkap mengenai rencana induk ini disampaikan melalui presentasi Jared Kushner di World Economic Forum (WEF) pada 22 Januari 2026, yang kemudian diulas oleh berbagai media internasional termasuk Al Jazeera.