Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa Indonesia secara resmi telah menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun 2026. Pencapaian ini disebut sebagai tonggak sejarah baru dalam peradaban bangsa guna mewujudkan kemandirian energi nasional.
Bahlil menjelaskan bahwa keberhasilan ini didorong oleh beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur yang mampu meningkatkan produksi solar secara signifikan. Selain itu, kebijakan substitusi biosolar 40 persen (B40) turut menjadi faktor kunci dalam memenuhi kebutuhan domestik tanpa bergantung pada pasokan luar negeri.
Optimalisasi Produksi dan Implementasi B40
Berdasarkan data kementerian, konsumsi solar nasional mencapai 39 juta kilo liter per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri sebelumnya hanya berada di kisaran 16 juta kilo liter. Kehadiran RDMP Balikpapan menambah kapasitas produksi sebesar 3,9 juta kilo liter solar dan 5 juta kilo liter bensin.
Kekurangan pasokan kemudian ditutupi melalui program B40, di mana komposisi bahan bakar terdiri dari 60 persen solar murni dan 40 persen biosolar. “Maka tahun ini dengan B40, tidak lagi kita melakukan impor solar,” ujar Bahlil dalam Sidang Dewan Pleno (SDP) 2026 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Makassar, Minggu (15/2/2026).
Dampak bagi Importir dan Ketahanan Ekonomi
Bahlil secara terbuka menyebut bahwa kebijakan penghentian impor ini akan berdampak langsung pada para importir BBM yang selama ini mengambil keuntungan dari ketergantungan Indonesia. Ia berkelakar bahwa para pelaku usaha tersebut akan merasa kesulitan dengan kebijakan baru ini.
“Ini sejarah pertama dalam sejarah peradaban bangsa kita. Pasti importir sakit kepala ini,” ungkap Bahlil. Ia juga menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan kebijakan swasembada energi meskipun berisiko menghadapi kritik atau tekanan dari berbagai pihak di media sosial.
Menurut Bahlil, total nilai impor energi Indonesia mencapai Rp 520 triliun, yang mencakup BBM serta bahan baku Liquefied Petroleum Gas (elpiji). Dengan menekan angka impor, pemerintah berharap dapat memperkuat struktur ekonomi nasional dan mengurangi defisit perdagangan di sektor energi.
Profil Proyek Strategis RDMP Balikpapan
Proyek RDMP Balikpapan yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) merupakan kilang terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp 123 triliun. Kilang ini telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1/2026) lalu.
Berikut adalah rincian peningkatan kapasitas produksi pada proyek RDMP Balikpapan:
| Aspek Produksi | Kapasitas Lama | Kapasitas Baru |
| Volume Produksi Harian | 260.000 barrel | 360.000 barrel |
| Tambahan Produksi Bensin | – | 5 juta kilo liter |
| Tambahan Produksi Solar | – | 3,9 juta kilo liter |
Informasi mengenai kebijakan penghentian impor solar ini disampaikan berdasarkan pernyataan resmi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam agenda Sidang Dewan Pleno Hipmi 2026.
