Berita

Bursa Efek Indonesia Catat IHSG Anjlok Lebih dari 10 Persen, Ekonom Ungkap Potensi Capital Outflow

Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt selama dua hari berturut-turut pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026). Kebijakan ini diambil menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus 8 persen, bahkan tercatat turun hingga 10,04 persen ke level 7.485,35 per Kamis pagi.

Dampak Anjloknya IHSG bagi Ekonomi Nasional

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai gejolak di pasar modal ini merupakan sinyal awal memburuknya iklim investasi di Indonesia. Menurut Bhima, jika pelemahan pasar saham terus berlanjut, potensi arus keluar modal asing atau capital outflow perlu diwaspadai.

“Kalau terus memburuk yang terjadi adalah capital outflow berdampak ke pelemahan rupiah,” ungkap Bhima saat dihubungi pada Kamis (29/1/2026). Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah belum terlalu terasa karena dolar AS juga sedang melemah.

Bhima juga menyoroti bahwa market crash di pasar modal ini mengirimkan sinyal negatif terhadap situasi investasi di Indonesia. Kondisi ini dapat menyebabkan sektor perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, sementara konsumen cenderung menahan belanja.

Faktor Pemicu Penurunan IHSG

Lebih lanjut, Bhima Yudhistira menilai anjloknya IHSG lebih banyak dipicu oleh persoalan dalam negeri ketimbang faktor eksternal. Beberapa faktor yang disebutkannya meliputi keluhan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi.

Selain itu, kebijakan aneksasi izin terhadap 28 perusahaan di bawah Danantara serta pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disebut hampir menembus 3 persen juga turut berkontribusi. “Fundamental ekonomi memang sedang rapuh, begitu ada faktor teknis di bursa, sentimen negatifnya tinggi,” pungkas Bhima.

Optimisme Pemerintah di Tengah Gejolak

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa IHSG akan mampu menembus level 10.000 hingga akhir tahun, sesuai proyeksi sebelumnya. “Kan akhir tahun kan (IHSG capai 10.000). To the moon jangan takut. Fondasi kita bagus, kan saya Menteri Keuangannya,” ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan, pemerintah tengah membenahi kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Direktorat Jenderal Pajak untuk mengoptimalkan penerimaan negara sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Ia menilai pelemahan IHSG yang terjadi setelah pengumuman kebijakan pengelola indeks global MSCI hanyalah shock sementara.

“Ini jelas shock sementara karena fundamental kita enggak masalah. Biasanya dua hari, dua setengah hari, dua hari tiga hari habis sudah,” pungkasnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI disebut tengah menyiapkan langkah untuk merespons isu tersebut.

Informasi lengkap mengenai gejolak pasar modal ini disampaikan melalui pernyataan resmi dari ekonom CELIOS dan Menteri Keuangan yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026.