Perusahaan keamanan siber dan intelijen siber nasional, Zentara, menyoroti dinamika lanskap ancaman digital di Indonesia yang menuntut kesiapan pertahanan lebih adaptif. CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, menegaskan bahwa fokus utama pengamanan saat ini bukan sekadar melacak asal serangan, melainkan memperkuat sistem internal agar tahan terhadap berbagai potensi ancaman.
Regal menjelaskan bahwa secara teknis alamat IP dapat dilacak untuk mengetahui asal koneksi, namun hal tersebut tidak selalu mencerminkan lokasi sebenarnya. Pelaku kejahatan siber sering kali menggunakan proxy atau server perantara untuk menyamarkan jejak mereka.
Urgensi Security Operations Center dan Tantangan Pelacakan
Meskipun serangan siber dapat dipetakan hingga tingkat kota, Regal menyebut informasi tersebut bukan tujuan akhir dari sistem pemantauan. Menurutnya, serangan bisa menimpa siapa saja, sehingga kesiapan pengelolaan insiden menjadi hal yang jauh lebih krusial bagi organisasi maupun instansi.
Karakter ancaman siber yang sangat dinamis menyebabkan pola serangan dapat berubah setiap hari dari berbagai wilayah. Dalam konteks ini, peran Security Operations Center (SOC) menjadi vital untuk memastikan respons yang cepat dan terukur terhadap setiap insiden keamanan yang muncul.
Metode Red Team dan Blue Team dalam Ketahanan Sistem
Dalam praktiknya, mempertahankan sebuah sistem dinilai jauh lebih sulit dibandingkan melakukan serangan. Untuk menguji ketahanan infrastruktur digital, Zentara menerapkan simulasi serangan internal yang melibatkan dua tim khusus dengan peran berbeda.
- Red Team: Bertugas sebagai penyerang yang mencoba menemukan celah dalam sistem.
- Blue Team: Bertugas sebagai tim pertahanan yang mengantisipasi dan menutup potensi kerentanan.
Regal memaparkan bahwa tujuan simulasi ini bukan untuk merusak, melainkan menemukan celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab. Zentara juga mendorong penggunaan solusi keamanan berbasis keahlian lokal dengan standar global.
Implementasi Regulasi dan Potensi Indonesia di Kawasan
Terkait regulasi, Indonesia dinilai telah memiliki kerangka perlindungan data yang kuat secara teori dan selaras dengan standar internasional seperti General Data Protection Regulation (GDPR). Namun, tantangan terbesar saat ini terletak pada proses implementasi dalam skala nasional.
Regal mengapresiasi kapasitas teknis pemangku kepentingan di Indonesia yang semakin matang, termasuk dalam memahami isu kecerdasan buatan (AI). Dengan dukungan anggaran dan penguatan kelembagaan, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan tata kelola keamanan siber terkuat di kawasan Asia.
Informasi lengkap mengenai strategi ketahanan digital ini disampaikan melalui pernyataan resmi CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, yang dirilis pada Jumat, 13 Februari 2026.
