Anggota Komisi XII DPR RI Dewi Yustisiana mendorong percepatan penyusunan peta jalan (roadmap) nasional Logam Tanah Jarang (LTJ). Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat daya saing Indonesia di tengah ketidakpastian rantai pasok mineral kritis global dan memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah.
Urgensi Roadmap Nasional Terintegrasi
Dewi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan LTJ, namun pengelolaannya masih bersifat parsial. Ia menekankan perlunya kebijakan yang terarah dan berbasis data agar ekosistem industri bernilai tambah dapat tumbuh di dalam negeri.
“Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan Logam Tanah Jarang, namun diperlukan roadmap nasional yang terintegrasi agar pengelolaannya tidak berjalan parsial dan mampu memberikan nilai tambah yang optimal bagi industri nasional,” ujar Dewi melalui keterangannya pada Jumat (13/2/2026).
Menurut politisi Partai Golkar tersebut, kejelasan kebijakan akan menjadi faktor kunci dalam mendorong investasi berkualitas dan penguatan kapasitas teknologi nasional. Ia juga mengingatkan agar pengembangan LTJ tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan dan tata kelola yang baik.
Tantangan Global dan Dominasi China
Isu kemandirian mineral strategis ini mengemuka seiring memanasnya persaingan dagang antara Amerika Serikat dan China. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam tarif impor hingga 100 persen terhadap produk China, di mana China saat ini menguasai lebih dari 60 persen pasokan bijih LTJ dunia dan 90 persen proses pemurniannya.
Tenaga Profesional Lemhannas RI, Edi Permadi, memproyeksikan permintaan LTJ akan tumbuh 50 hingga 60 persen pada tahun 2040. Kebutuhan ini didorong oleh produksi magnet permanen untuk kendaraan listrik dan teknologi maju yang diperkirakan akan melampaui kapasitas pasokan global.
Langkah Strategis dan Potensi Domestik
Indonesia memiliki potensi LTJ yang melimpah sebagai mineral ikutan pada tambang timah, bauksit, nikel, hingga batuan granit. Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pengembangan komoditas ini melalui PT Timah Tbk (TINS) dan MIND ID sebagai bagian dari strategi hilirisasi.
Saat ini, PT Timah tengah mengelola cadangan monasit dan membangun pilot plant pengolahan LTJ di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat. Edi Permadi menambahkan bahwa pengembangan harus mencakup aspek-aspek berikut:
- Eksplorasi sesuai standar nasional dan internasional.
- Pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) yang efisien.
- Pengembangan industri hilir berbasis LTJ.
- Dukungan regulasi dan koordinasi lintas kementerian.
Informasi mengenai dorongan penyusunan peta jalan mineral strategis ini dihimpun berdasarkan keterangan resmi Anggota DPR RI dan pernyataan pihak Lemhannas RI yang dirilis melalui saluran komunikasi resmi.
