Pasar keuangan global tengah menyaksikan pergeseran signifikan pada peta kekuatan mata uang dunia yang selama ini dianggap sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Dollar AS, franc Swiss, dan yen Jepang, yang biasanya menjadi tumpuan investor saat terjadi gejolak ekonomi maupun geopolitik, kini menunjukkan performa yang kontras sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.
Tekanan Terhadap Dollar AS dan Mitos Safe Haven
Dollar AS mengalami tekanan hebat akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang memicu gelombang penjualan aset-aset Amerika Serikat atau aksi sell America. Indeks dollar tercatat anjlok lebih dari 9 persen sepanjang 2025. Bank swasta Julius Baer menyoroti bahwa kebijakan perdagangan yang tidak menentu serta jalur utang pemerintah yang tidak berkelanjutan melalui One Big Beautiful Bill Act menjadi pemicu utama melemahnya kepercayaan investor.
Kepala Riset Valuta Asing di Deutsche Bank, George Saravelos, bahkan menyebut status safe haven dollar sebagai sebuah mitos. Menurutnya, korelasi antara dollar dan pasar saham secara historis mendekati nol, dan dalam setahun terakhir dollar tidak lagi bergerak searah dengan indeks S&P. Senada dengan hal tersebut, CEO Smead Capital Management, Cole Smead, memproyeksikan tren bearish jangka panjang bagi mata uang Negeri Paman Sam tersebut, merujuk pada pola historis pasca-gelembung teknologi tahun 2002.
Volatilitas Yen Jepang dan Intervensi Otoritas
Yen Jepang juga tidak luput dari ketidakpastian dengan pergerakan nilai tukar yang fluktuatif tajam terhadap dollar. Dinamika ini dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan serta kebijakan fiskal ekspansif dari pemerintahan baru yang sempat menekan nilai yen. Analis dari Citi dan ING Group memprediksi yen akan terus mengalami tarik-menarik di kisaran level 159 hingga 160, yang berpotensi memicu intervensi dari otoritas moneter Jepang maupun AS.
Franc Swiss Menjadi Pilihan Utama Pasar
Berbeda dengan dua pesaingnya, franc Swiss justru tampil perkasa dengan penguatan hampir 13 persen terhadap dollar AS sepanjang 2025, mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Stabilitas politik dan tingkat utang yang rendah menjadikan franc sebagai aset aman paling solid saat ini. Matthew Ryan dari Ebury menegaskan bahwa franc Swiss semakin mengukuhkan diri sebagai mata uang pilihan utama pasar di tengah memudarnya pamor dollar dan yen.
Meski demikian, Ketua Swiss National Bank (SNB), Martin Schlegel, menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi pasar valuta asing jika diperlukan. Langkah ini dipertimbangkan guna menjaga daya saing ekspor Swiss dan mengantisipasi tekanan deflasi, mengingat inflasi negara tersebut berada di level sangat rendah yakni 0,1 persen. Analis MUFG, Lee Hardman, menambahkan bahwa dalam jangka panjang, franc Swiss telah terbukti menjadi penyimpan nilai terbaik di antara mata uang G10 lainnya.
Informasi lengkap mengenai dinamika pasar valuta asing ini merujuk pada laporan riset lembaga keuangan global dan pernyataan resmi otoritas moneter yang dirilis hingga Februari 2026.
