Islami

Diplomasi Panas, UEA Manfaatkan Isu Antisemitisme untuk Sudutkan Arab Saudi di Amerika Serikat

Advertisement

Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mulai memanfaatkan kedekatannya dengan kelompok lobi pro-Israel guna menekan posisi Arab Saudi dalam perselisihan regional yang kian memanas. Langkah strategis ini menandai babak baru dalam peta diplomasi Abu Dhabi pasca-Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) tahun 2021.

Pemanfaatan Isu Antisemitisme di Washington

Berdasarkan laporan Middle East Eye (MEE) pada Rabu (11/2/2026), sejumlah pejabat aktif dan mantan pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa UEA telah mendekati kelompok lobi berpengaruh, Komite Yahudi Amerika (AJC). Abu Dhabi dilaporkan mendesak AJC untuk mengeluarkan pernyataan resmi terkait dugaan meningkatnya sentimen antisemitisme di Arab Saudi.

Langkah ini dinilai sangat strategis karena isu antisemitisme merupakan topik yang sangat sensitif bagi Pemerintah Amerika Serikat. Jika narasi ini berhasil meyakinkan publik, reputasi Riyadh di mata Washington terancam mengalami kerusakan serius.

“Perseteruan ini telah mengambil dimensi keagamaan,” ujar salah satu pejabat Amerika Serikat kepada MEE.

Tanggapan Keras dan Manipulasi Politik

Tuduhan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Arab Saudi. Ahmed Altuwaijri, seorang akademisi Saudi dan mantan dekan di King Saud University, menyebut tindakan UEA sebagai bentuk manipulasi politik yang berbahaya bagi stabilitas kawasan.

“UEA tahu bahwa antisemitisme adalah isu sensitif di AS, jadi mereka mencoba memanipulasinya dengan sekutu Israel untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi klaim ini keterlaluan dan sepenuhnya salah,” tegas Altuwaijri dalam pernyataannya.

Advertisement

Upaya Diplomasi dan Pengendalian Kerusakan

Menyadari risiko diplomatik yang besar, Arab Saudi segera melakukan langkah cepat atau damage control. Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, dilaporkan telah melakukan gerilya diplomasi untuk menetralisir narasi negatif tersebut.

Bulan lalu, Pangeran Khalid bertemu dengan sejumlah kelompok pro-Israel di Washington, termasuk AJC dan Anti-Defamation League (ADL). Pertemuan ini bertujuan untuk menjaga hubungan baik Riyadh dengan simpul-simpul kekuasaan utama di Amerika Serikat.

Ketegangan antara kedua negara ini sebenarnya telah memuncak sejak Desember lalu, dipicu oleh perbedaan sikap dalam konflik di Yaman. Selain itu, persaingan pengaruh antara UEA dan Arab Saudi juga dilaporkan meluas hingga ke Benua Afrika, khususnya dalam krisis di Sudan.

Informasi lengkap mengenai dinamika diplomatik ini bersumber dari laporan investigasi Middle East Eye yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement