Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi menyepakati peningkatan tekanan terhadap Iran melalui pembatasan ekspor minyak ke China. Kesepakatan strategis ini dicapai dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Gedung Putih pada Rabu pekan lalu guna menekan stabilitas ekonomi Teheran.
Pembatasan Ekspor Minyak ke China
Berdasarkan laporan Axios yang dikutip dari Reuters, langkah ini diambil mengingat China merupakan pasar utama bagi komoditas energi Iran. Saat ini, China menyerap lebih dari 80 persen total ekspor minyak Iran, sehingga pengurangan volume perdagangan tersebut diharapkan akan berdampak langsung pada pendapatan negara tersebut.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat memberikan konfirmasi terkait arah kebijakan ini.
“Kami setuju bahwa kami akan memberikan tekanan maksimal terhadap Iran, misalnya mengenai penjualan minyak Iran ke China,”
ujar pejabat tersebut dalam pengarahan resmi pada Sabtu (14/2/2026).
Kesiagaan Militer dan Eskalasi di Kawasan Teluk
Di tengah tekanan ekonomi, Amerika Serikat juga memperkuat kehadiran militernya di wilayah Teluk. Presiden Trump telah menempatkan armada angkatan laut dengan tingkat kesiapan tinggi untuk menghadapi kemungkinan operasi militer berkelanjutan selama beberapa minggu ke depan.
Langkah Washington ini memicu respons keras dari pihak Teheran. Pemerintah Iran mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah apabila kedaulatan mereka terganggu. Iran sendiri dikenal memiliki kapabilitas rudal balistik canggih serta program nuklir yang terus menjadi sorotan internasional.
Upaya Diplomasi Nuklir Melalui Mediator Oman
Meskipun tensi politik dan militer terus memanas, jalur komunikasi diplomatik dilaporkan belum sepenuhnya tertutup. Diplomat dari Amerika Serikat dan Iran tetap melakukan pembicaraan mengenai isu nuklir melalui bantuan mediator dari Oman pada pekan lalu.
Upaya ini bertujuan untuk menghidupkan kembali dialog yang sempat terhenti, meskipun kedua negara tetap berada dalam posisi siaga. Pihak Amerika Serikat terus mempersoalkan program nuklir Teheran yang dianggap berisiko bagi stabilitas kawasan, sementara Iran menegaskan program tersebut ditujukan untuk sumber daya energi.
Informasi lengkap mengenai perkembangan hubungan diplomatik dan kebijakan ekonomi ini disampaikan melalui laporan Axios dan pernyataan resmi pejabat Amerika Serikat yang dirilis pada Februari 2026.
