Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap potensi pergantian rezim di Iran dan mengonfirmasi pengiriman kekuatan militer tambahan ke Timur Tengah pada Jumat (13/2/2026). Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara serta kebuntuan jalur diplomasi yang dianggap tidak membuahkan hasil selama puluhan tahun.
Dukungan Terhadap Pergantian Rezim di Teheran
Donald Trump menyebut bahwa pergantian kepemimpinan di Iran merupakan langkah terbaik yang bisa terjadi saat ini. Pernyataan tersebut disampaikan usai dirinya menghadiri acara militer di Fort Bragg, North Carolina.
“Tampaknya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” ujar Trump sebagaimana dilansir dari AFP.
Meski menolak menyebutkan secara spesifik sosok yang diinginkan untuk memimpin Iran di masa depan, Trump mengeklaim terdapat pihak-pihak yang mampu melakukan tugas tersebut. Ia juga mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap proses diplomasi selama 47 tahun yang dinilai telah mengorbankan banyak nyawa tanpa hasil nyata.
Pengerahan Kapal Induk USS Gerald R Ford
Langkah militer Amerika Serikat semakin nyata dengan keputusan Kementerian Pertahanan atau Pentagon untuk mengirimkan kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R Ford ke wilayah Timur Tengah. Kapal ini merupakan kapal induk terbaru dan terbesar di dunia yang akan memperkuat posisi militer AS di kawasan tersebut.
USS Gerald R Ford dijadwalkan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu bersiaga bersama sejumlah kapal penghancur rudal dan pesawat pengintai. Trump menegaskan bahwa pengerahan kekuatan militer tambahan ini merupakan langkah antisipasi jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.
“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya. Jika kita membutuhkannya, kita akan menyiapkannya,” tegas Trump.
Pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa USS Gerald R Ford membutuhkan waktu setidaknya satu minggu untuk mencapai Timur Tengah. Kapal ini sebelumnya beroperasi di wilayah Karibia dan sempat terlibat dalam operasi di Venezuela pada awal tahun ini.
Potensi Eskalasi dan Respons Iran
Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka di kawasan. Sebelumnya, Amerika Serikat sempat menargetkan fasilitas nuklir Iran dalam serangan tahun lalu. Ketika ditanya mengenai target yang tersisa di situs nuklir tersebut, Trump memberikan jawaban sinis.
“Debu. Jika kami melakukannya (serangan kembali), itu akan menjadi bagian terkecil dari misi tersebut, tetapi kami mungkin akan mengambil apa pun yang tersisa,” ujar Trump.
Di sisi lain, pemerintah di Teheran telah bersumpah untuk membalas setiap serangan yang diluncurkan terhadap wilayah mereka. Iran menyatakan kesiapan untuk membahas pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi, namun mereka menolak keras jika perundingan tersebut dikaitkan dengan program rudal balistik mereka.
Informasi lengkap mengenai perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah ini disampaikan melalui pernyataan resmi Presiden Donald Trump dan laporan Pentagon yang dirilis pada Februari 2026.
