Mata uang ringgit Malaysia menunjukkan performa gemilang pada awal tahun 2026 dengan menembus level tertinggi sejak Mei 2018 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan signifikan ini didorong oleh kepercayaan pasar global terhadap peran strategis Malaysia dalam rantai pasok kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta fundamental ekonomi domestik yang semakin kokoh.
Rekor Tertinggi dalam Tujuh Tahun Terakhir
Berdasarkan laporan Bloomberg pada 26 Januari 2026, nilai tukar ringgit sempat menyentuh angka 3,9678 per dolar AS. Lonjakan ini mencerminkan kenaikan harian hampir 1 persen, yang juga diikuti dengan pertumbuhan tajam pada indeks saham utama di Kuala Lumpur. Aset-aset Malaysia kini berada di level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun terakhir seiring meningkatnya minat investor asing terhadap ekosistem teknologi negara tersebut.
Sektor teknologi dan investasi asing langsung menjadi motor utama yang memperkuat permintaan terhadap ringgit. Selain terhadap dolar AS, ringgit juga menunjukkan performa yang relatif lebih unggul dibandingkan mata uang lain di kawasan Asia selama periode awal tahun ini.
Optimisme Sektor AI dan Arus Investasi Asing
Analis mata uang dari MUFG Bank Ltd, Lloyd Chan, memproyeksikan ringgit akan memasuki siklus apresiasi yang berkelanjutan hingga akhir tahun 2026. Ia memperkirakan nilai tukar dapat mencapai angka 3,70 per dolar AS pada penutupan tahun. Proyeksi ini didasarkan pada peningkatan aliran modal ke sektor manufaktur, jasa, serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
“Ekonomi Malaysia tetap berada dalam siklus investasi yang dipimpin oleh sektor teknologi informasi. Total persetujuan investasi di sektor manufaktur dan jasa meningkat 14,7 persen secara tahunan pada periode Januari hingga September 2025,” tulis Chan dalam laporannya. Ia menambahkan bahwa sektor TIK tumbuh sekitar 32 persen pada periode yang sama berkat partisipasi asing yang kuat.
Analisis Konsensus Pasar dan Faktor Risiko
Meskipun tren menunjukkan penguatan, beberapa analis memberikan catatan mengenai batas kenaikan jangka pendek. Neoh Jia Man, fund manager dari Tradeview Capital, menyebutkan bahwa ringgit telah melampaui target akhir tahun dari konsensus Bloomberg yang berada di angka 4,00 per dolar AS. Menurutnya, potensi kenaikan lebih lanjut mungkin akan terbatas dalam waktu dekat karena target pasar sudah tercapai.
Di sisi lain, faktor eksternal seperti kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi perhatian. Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, memperingatkan bahwa jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, dolar AS berpotensi kembali menguat dan menekan posisi ringgit.
Stabilitas Domestik Sebagai Jangkar Ekonomi
Berbeda dengan pandangan yang menitikberatkan pada faktor eksternal, Mohd Sedek Jantan selaku Director of Investment Strategy di IPPFA Sdn Bhd menilai stabilitas moneter Malaysia adalah kunci utama. Ia menegaskan bahwa kinerja ringgit saat ini bukan sekadar pemulihan siklikal atau dampak dari kebijakan The Fed semata.
“Stabilitas moneter relatif Malaysia, prospek pertumbuhan yang membaik, dan dinamika inflasi yang terkendali memberikan jangkar yang lebih tahan lama bagi mata uang tersebut,” ujar Sedek Jantan. Disiplin fiskal dan rasionalisasi subsidi, seperti pada bahan bakar RON95, juga dinilai berhasil menjaga risiko kedaulatan tetap terkendali sehingga meningkatkan kepercayaan investor global.
Informasi mengenai dinamika nilai tukar ringgit dan proyeksi ekonomi Malaysia ini dihimpun berdasarkan laporan pasar keuangan dan pernyataan resmi para analis ekonomi yang dirilis hingga Februari 2026.
