Berita

Emas Dunia Melonjak Tajam, Tembus Rekor Rp 87,5 Juta per Ons: Dolar AS Melemah dan Geopolitik Jadi Kunci

Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Rabu, 28 Januari 2026, menembus level 5.243,58 dollar AS atau sekitar Rp 87,5 juta per ons. Lonjakan signifikan ini terjadi di tengah pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang mencapai posisi terendah dalam hampir empat tahun terakhir.

Penguatan harga emas dipicu oleh kombinasi tekanan geopolitik global, dolar AS yang melemah, serta meningkatnya spekulasi menjelang keputusan kebijakan moneter bank sentral AS. Kenaikan ini melanjutkan reli tajam sehari sebelumnya, ketika harga emas melesat lebih dari 3 persen.

Rekor Baru Harga Emas Global

Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), harga emas spot tercatat naik 1,1 persen ke level 5.243,58 dollar AS per ons pada pukul 03.14 GMT (10.00 WIB), setelah sempat menyentuh puncak intraday di 5.247,21 dollar AS per ons. Secara tahunan, harga emas telah melonjak lebih dari 20 persen sejak awal tahun.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga mengalami kenaikan signifikan, melonjak 3,1 persen menjadi 5.237,70 dollar AS per ons. Hal ini mencerminkan derasnya aliran dana investor ke aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dolar AS Melemah Jadi Katalis Utama

Analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong, menilai reli emas saat ini tidak dapat dilepaskan dari hubungan terbalik yang kuat antara harga emas dan dolar AS. Menurutnya, pelemahan dolar menjadi katalis utama lonjakan harga logam mulia tersebut dalam beberapa hari terakhir.

“Pergerakan emas didorong oleh korelasi negatif yang sangat kuat dengan dolar. Kenaikan tajam pada sesi AS kemarin juga dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan adanya konsensus luas di Gedung Putih untuk membiarkan dolar AS lebih lemah ke depan,” ujar Wong.

Dolar AS sendiri tengah menghadapi apa yang disebut analis sebagai krisis kepercayaan, setelah bergerak di dekat level terendah dalam empat tahun terakhir. Tekanan terhadap mata uang tersebut semakin besar menyusul pernyataan Trump yang menyebut nilai dolar “sangat bagus”, meski di saat bersamaan pasar menilai dolar telah terdepresiasi terlalu dalam.

Tekanan sentimen juga datang dari dalam negeri Amerika Serikat. Kepercayaan konsumen tercatat anjlok ke level terendah dalam lebih dari 11,5 tahun pada Januari, dipicu kekhawatiran terhadap melemahnya pasar tenaga kerja serta tingginya harga kebutuhan hidup.

Trump turut menambah dinamika pasar dengan menyatakan akan segera mengumumkan kandidat baru untuk memimpin bank sentral AS. Ia juga memperkirakan suku bunga akan turun setelah ketua baru Federal Reserve resmi menjabat. Meski demikian, pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan moneter Januari yang tengah berlangsung.

Dalam jangka pendek, Wong memperkirakan area 5.240 dollar AS per ons berpotensi menjadi level resistensi harga emas.

Proyeksi dan Reli Logam Mulia Lainnya

Meski menghadapi potensi resistensi jangka pendek, prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang masih dinilai sangat kuat. Mengutip laporan The Economic Times, Deutsche Bank memproyeksikan harga emas berpeluang menembus 6.000 dollar AS per ons pada 2026.

Proyeksi tersebut didorong oleh permintaan investasi yang konsisten dari bank sentral dan investor global yang terus meningkatkan alokasi portofolio ke aset non-dolar serta aset berwujud di tengah ketidakpastian global.

Tak hanya emas, reli juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 1,9 persen menjadi 115,11 dollar AS per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di 117,69 dollar AS per ons. Sepanjang tahun ini, harga perak telah melonjak hampir 60 persen.

Sementara itu, platinum menguat 2 persen ke level 2.692,60 dollar AS per ons, setelah sempat mencapai rekor 2.918,80 dollar AS per ons, sedangkan paladium naik 1,4 persen menjadi 1.961,68 dollar AS per ons.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan Reuters dan The Economic Times yang dirilis pada Rabu, 28 Januari 2026.