Lanskap ketenagakerjaan di Jepang mengalami pergeseran fundamental seiring dengan langkah sejumlah perusahaan raksasa yang tetap melakukan pemangkasan karyawan meski mencatatkan keuntungan besar. Fenomena ini menandai berakhirnya era sistem kerja seumur hidup yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas budaya korporasi di Negeri Sakura tersebut.
Bukan lagi sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian, pemutusan hubungan kerja (PHK) kini menjadi bagian dari strategi restrukturisasi jangka panjang. Perusahaan-perusahaan besar mulai beralih fokus untuk menopang pertumbuhan di tengah percepatan inovasi teknologi dan persaingan global yang semakin ketat.
Restrukturisasi di Tengah Rekor Laba Bersih
Salah satu contoh nyata terjadi pada Mitsubishi Electric Corp yang menawarkan program pensiun sukarela kepada ribuan karyawannya. Langkah ini diambil di saat perusahaan justru memproyeksikan pencapaian laba bersih konsolidasi tertinggi dalam sejarah untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026.
Presiden Mitsubishi Electric, Kei Uruma, menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan tantangan masa depan. Fokus utama perusahaan kini bergeser pada penguatan layanan digital guna melengkapi bisnis perangkat keras tradisional mereka.
“Kami harus memanfaatkan personel yang mampu menghadapi tantangan ini,” ujar Uruma dalam pernyataan resminya terkait transformasi digital perusahaan.
Daftar Perusahaan yang Melakukan Pemangkasan
Selain Mitsubishi Electric, beberapa perusahaan besar lainnya juga menempuh jalur serupa untuk meningkatkan efisiensi operasional mereka:
- Mitsubishi Electric: Sebanyak 2.378 karyawan mengajukan pensiun dini, dengan total estimasi mencapai 4.700 orang di seluruh grup.
- Panasonic Holdings Corp: Diperkirakan akan mengurangi sekitar 12.000 pekerja secara grup melalui program pensiun dini.
- Olympus Corp: Berencana memangkas sekitar 2.000 pegawai meski kinerja keuangan tetap diprediksi positif.
Data Riset: Mayoritas Perusahaan yang Pangkas Karyawan Justru Untung
Data dari Tokyo Shoko Research memperkuat tren perubahan ini. Berdasarkan laporan lembaga riset tersebut, terdapat 43 perusahaan tercatat di Jepang yang menawarkan program pensiun dini atau pengunduran diri sukarela sepanjang tahun lalu.
Menariknya, sekitar 70 persen dari total perusahaan tersebut merupakan entitas yang mencatatkan keuntungan finansial. Hal ini membuktikan bahwa restrukturisasi tenaga kerja kini menjadi alat strategis bagi perusahaan sehat untuk memperbaiki komposisi karyawan dan memastikan keberlanjutan bisnis.
Dampak Percepatan Inovasi Teknologi
Koji Hayashi, principal di divisi riset Japan Research Institute, menilai bahwa inovasi teknologi yang sangat cepat, terutama di sektor manufaktur, memaksa perusahaan untuk bertindak agresif. Perusahaan kini lebih membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan digital dan otomatisasi.
“Jika perusahaan tidak mengganti pekerja lama dengan pekerja baru secara cepat, mereka akan menghadapi masalah,” tutur Hayashi. Ia juga mencatat adanya pergeseran ke arah job-based employment system, di mana posisi dan gaji ditentukan berdasarkan tanggung jawab, bukan lagi senioritas.
Informasi lengkap mengenai fenomena restrukturisasi korporasi di Jepang ini dihimpun dari laporan Japan Times dan data resmi Tokyo Shoko Research yang dirilis pada Februari 2026.
