Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi sebesar 1,25 persen ke kisaran 66.450 dollar AS atau setara Rp 1,11 miliar pada Kamis (19/2/2026). Penurunan ini dipicu oleh rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Dinamika Kebijakan The Fed dan Sentimen Pasar
Notulensi FOMC terbaru mengungkap adanya perbedaan pandangan di antara pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai langkah moneter selanjutnya. Sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap persisten, sementara lainnya bersiap melakukan pemangkasan jika tekanan harga mereda.
Kondisi ini mendorong indeks sentimen pasar kripto jatuh ke level Extreme Fear. Penguatan Indeks Dollar AS (DXY) ke level 97,7 turut menekan likuiditas global dan memicu aksi jual pada aset berisiko, yang berdampak langsung pada penyusutan kapitalisasi pasar aset digital.
Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini bersikap lebih pesimistis terhadap kebijakan moneter mendatang. Probabilitas pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum pertemuan Juni tercatat berada di bawah angka 50 persen.
Analisis INDODAX Terkait Fase Konsolidasi
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai koreksi harga Bitcoin di bawah ambang 67.000 dollar AS merupakan reaksi pasar yang wajar. Menurutnya, investor global saat ini sedang melakukan penyesuaian terhadap lini masa pemangkasan suku bunga The Fed.
“Area 64.000 dollar AS menjadi titik support yang kuat. Secara historis, fase konsolidasi seperti ini justru sering menjadi fondasi yang baik sebelum pasar kembali menguat,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).
Antony juga menyoroti kaitan dinamika global dengan kebijakan moneter dalam negeri, khususnya BI Rate yang berada di kisaran 4,75 persen hingga 5,5 persen. Langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dianggap memberikan kepastian bagi ekonomi domestik.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
Di tengah situasi pasar yang dinamis, INDODAX mengimbau investor untuk tetap rasional dan melakukan riset mandiri. Strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) disebut tetap menjadi opsi efektif untuk memitigasi volatilitas makroekonomi global.
Antony menegaskan bahwa kondisi makroekonomi saat ini kembali mengingatkan pada fungsi utama Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Momentum ini dipandang sebagai waktu yang tepat bagi investor untuk merencanakan portofolio secara lebih matang.
Informasi lengkap mengenai dinamika pasar kripto ini disampaikan melalui pernyataan resmi INDODAX yang dirilis pada Jumat, 20 Februari 2026.
