Harga emas dunia mencatatkan penguatan signifikan hingga kembali menyentuh level 5.000 dollar AS per troy ons pada Sabtu (14/2/2026). Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menyusul rilis data inflasi yang tercatat relatif moderat pada awal tahun ini.
Dampak Data Inflasi dan Imbal Hasil Obligasi
Data inflasi AS yang terkendali meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga yang lebih ekstrem. Kondisi tersebut sekaligus mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga acuannya. Sejalan dengan sentimen tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terpantau bergerak turun.
Pelaku pasar swap kini memperkirakan adanya peluang sekitar 50 persen untuk pemangkasan suku bunga ketiga hingga Desember mendatang. Secara fundamental, suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas karena logam mulia merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (yield).
Analisis Pasar dan Aksi Beli Saat Harga Rendah
Selain faktor makroekonomi, penguatan harga emas juga dipicu oleh langkah investor yang memanfaatkan penurunan harga tajam pada Kamis (12/2/2026). Para pelaku pasar melakukan aksi beli di harga rendah (buy the dip) untuk menyeimbangkan posisi portofolio mereka setelah terjadinya likuidasi besar-besaran.
Analis komoditas di ING Bank, Ewa Manthey, menjelaskan bahwa meskipun volatilitas tetap tinggi, pergerakan harga saat ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan. “Pergerakan hari ini mengindikasikan bahwa koreksi mungkin sudah berlebihan, dengan aksi beli saat harga murah dan penyesuaian posisi kini memberikan dukungan,” ujar Manthey.
Fluktuasi Harga dan Pengaruh Pasar China
Sebelumnya, harga emas dunia sempat mencetak rekor tertinggi di atas 5.595 dollar AS per troy ons pada akhir Januari 2026. Namun, reli yang didorong oleh pembelian spekulatif tersebut mencapai titik jenuh, memicu aksi jual cepat yang menyeret harga kembali ke bawah level 5.000 dollar AS sebelum akhirnya bangkit kembali pekan ini.
Faktor lain yang memengaruhi dinamika pasar adalah rencana penutupan pasar China pekan depan dalam rangka libur Tahun Baru Imlek. Selama beberapa bulan terakhir, permintaan fisik dari China menjadi salah satu motor utama kenaikan harga emas global. Analis Commerzbank memprediksi harga emas akan memasuki fase konsolidasi sementara selama partisipan pasar di China absen dari perdagangan.
Informasi mengenai pergerakan harga komoditas ini dihimpun berdasarkan laporan pasar global dan data Bloomberg yang dirilis pada Sabtu, 14 Februari 2026.
