Harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat (20/2/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain faktor keamanan global, penguatan logam mulia ini juga didorong oleh penurunan imbal hasil obligasi di kawasan Eropa serta sikap antisipatif pelaku pasar terhadap data inflasi terbaru di Amerika Serikat.
Rincian Kenaikan Harga Emas dan Logam Mulia
Berdasarkan data perdagangan spot, harga emas menguat 0,5 persen menjadi 5.021,31 dollar AS per ounce atau setara dengan Rp84,85 juta. Secara mingguan, komoditas ini berada dalam tren positif dengan kenaikan sekitar 0,4 persen. Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April terpantau naik 0,9 persen ke level 5.040,10 dollar AS per ounce atau sekitar Rp85,16 juta.
Kenaikan harga juga merambah ke sektor logam mulia lainnya pada penutupan pekan ini:
- Perak spot naik 2,8 persen menjadi 80,53 dollar AS per ounce.
- Platinum menguat 2,3 persen ke level 2.118,11 dollar AS per ounce.
- Paladium bertambah 1,6 persen menjadi 1.712,45 dollar AS per ounce.
Dampak Ketegangan Geopolitik AS-Iran
Sentimen utama pasar pekan ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberikan peringatan keras kepada Iran terkait program nuklirnya. Trump menegaskan bahwa Iran harus segera mencapai kesepakatan, atau risiko buruk akan terjadi dalam kurun waktu 10 hingga 15 hari ke depan.
Kondisi ini memicu investor untuk beralih ke aset aman atau safe haven. Analis Quantitative Commodity Research, Peter Fertig, menjelaskan bahwa penurunan imbal hasil obligasi pemerintah di zona euro turut mengurangi biaya peluang bagi investor untuk memegang emas dibandingkan aset berbunga lainnya.
Proyeksi Ekonomi dan Kebijakan Federal Reserve
Lembaga keuangan Goldman Sachs memproyeksikan harga emas akan terus mengalami kenaikan bertahap sepanjang tahun ini. Prediksi tersebut didukung oleh potensi peningkatan pembelian oleh bank sentral serta eksposur investor swasta sebagai respons terhadap rencana pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat.
Saat ini, pasar tengah menanti rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang menjadi acuan inflasi bagi Federal Reserve. Berdasarkan data FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret mendatang, mengingat emas cenderung menguat dalam kondisi suku bunga rendah.
Informasi lengkap mengenai pergerakan harga komoditas ini dihimpun berdasarkan laporan pasar keuangan global dan pernyataan resmi otoritas terkait yang dirilis pada 20 Februari 2026.
