Finansial

Ibrahim Assuaibi Ungkap Penyebab Harga Emas RI Sulit Turun Meski Pasar Global Sempat Terkoreksi

Advertisement

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi faktor utama yang menjaga harga emas di pasar domestik tetap berada di level tinggi. Meskipun harga emas global sempat mengalami koreksi, depresiasi mata uang Garuda justru memberikan sentimen positif bagi nilai logam mulia di dalam negeri.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan harga emas di Indonesia berkaitan erat dengan kondisi rupiah. Pada penutupan perdagangan Rabu (18/2/2026), mata uang rupiah tercatat melemah 0,28 persen ke level Rp 16.884 per dollar AS.

Pengaruh Depresiasi Rupiah terhadap Harga Logam Mulia

Ibrahim menyebutkan bahwa ketika kurs rupiah melemah, harga emas domestik secara otomatis akan terdorong naik. Hal ini dikarenakan acuan harga emas global menggunakan satuan dollar AS, sehingga pelemahan mata uang lokal membuat biaya konversi menjadi lebih mahal bagi pasar Indonesia.

“Harga emas, harga logam mulia naik itu kan karena apa? Karena rupiah melemah,” ujar Ibrahim saat dihubungi pada Rabu (18/2/2026). Kondisi ini terlihat pada harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang berada di angka Rp 2.878.000 per gram setelah mengalami penurunan Rp 40.000 dari posisi sebelumnya.

Peran Pemerintah sebagai Market Maker

Ibrahim juga menyoroti mekanisme pembentukan harga di dalam negeri yang melibatkan peran strategis pemerintah sebagai market maker. Menurutnya, penurunan tajam pada pasar global tidak selalu diikuti oleh pasar domestik dengan intensitas yang sama karena adanya batasan tertentu.

Advertisement

Saat harga emas dunia menyentuh level 1.600 dollar AS per troy ounce beberapa waktu lalu, harga emas batangan di Indonesia tidak turun drastis. Ibrahim menegaskan bahwa pemerintah membatasi penurunan tersebut untuk menjaga stabilitas di tengah kondisi rupiah yang sedang tertekan.

Tren Harga Global dan Fenomena FOMO Masyarakat

Di pasar global, harga emas spot terpantau naik 1,1 persen menjadi 4.929,69 dollar AS per ounce pada Rabu (18/2/2026). Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April juga mengalami kenaikan sebesar 0,9 persen ke level 4.949,20 dollar AS per ounce setelah sempat menyentuh level terendah dalam sepekan.

Selain faktor kurs, tingginya permintaan fisik dari masyarakat turut menopang harga emas tetap tinggi. Ibrahim mencatat adanya fenomena fear of missing out (FOMO) di mana masyarakat berbondong-bondong membeli emas saat harga berada di bawah Rp 3 juta per gram, seperti yang terlihat pada antrean panjang di pameran Jakarta Convention Center (JCC).

Informasi lengkap mengenai pergerakan nilai tukar dan harga komoditas ini disampaikan melalui analisis pasar dan data perdagangan yang dirilis pada Rabu, 18 Februari 2026.

Advertisement