Berita

IHSG Anjlok 10 Persen: Ekonom CELIOS Peringatkan Risiko Capital Outflow dan Pelemahan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren penurunan signifikan, memicu kekhawatiran di kalangan ekonom. Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyoroti dampak serius yang akan terjadi apabila IHSG tidak kunjung membaik, termasuk ancaman arus keluar modal asing atau capital outflow.

Bhima mengungkapkan bahwa pelemahan IHSG yang berkelanjutan dapat berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar rupiah. Pernyataan ini disampaikan ketika dihubungi pada Kamis (29/1/2026).

Ancaman Capital Outflow dan Pelemahan Rupiah

Menurut Bhima Yudhistira, jika kondisi IHSG terus memburuk, maka capital outflow akan terjadi dan berujung pada pelemahan rupiah. “Kalau terus memburuk yang terjadi adalah capital outflow berdampak ke pelemahan rupiah,” ungkap Bhima.

Meskipun demikian, Bhima mencatat bahwa pelemahan dolar AS saat ini sedikit meredakan tekanan terhadap rupiah. “Saat ini kita masih bersyukur, rupiah sebenarnya memburuk dibanding mata uang ASEAN lainnya, tapi dolar AS juga sedang melemah. Anggap saja baru di pasar saham kita terdampak, belum ke rupiah,” jelasnya.

Situasi ini, lanjut Bhima, telah mengirimkan sinyal negatif terhadap iklim investasi di Indonesia, yang berpotensi memicu kehati-hatian sektor perbankan dalam menyalurkan kredit. “Bank jadi hati-hati sekali salurkan kredit, konsumen juga sama menahan belanja,” tambahnya.

Penyebab Anjloknya IHSG Menurut CELIOS

Bhima menilai anjloknya IHSG lebih banyak dipicu oleh persoalan internal negeri dibandingkan faktor eksternal. Beberapa faktor domestik yang disoroti antara lain keluhan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi, kebijakan aneksasi izin terhadap 28 perusahaan di bawah Danantara, serta pelebaran defisit APBN yang hampir menembus 3 persen.

“Berbagai faktor mulai dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang komplain soal transparansi, aneksasi izin 28 perusahaan di bawah Danantara, hingga pelebaran defisit APBN hampir menembus 3 persen,” terang Bhima.

Kondisi fundamental ekonomi yang rapuh saat ini, menurutnya, membuat sentimen negatif mudah muncul meski hanya dipicu oleh faktor teknis di bursa. “Fundamental ekonomi memang sedang rapuh, begitu ada faktor teknis di bursa, sentimen negatifnya tinggi,” ujar Bhima.

Pergerakan IHSG Terkini Setelah Trading Halt

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt selama dua hari berturut-turut. Kebijakan ini diambil menyusul anjloknya IHSG hingga menembus 8 persen.

Penghentian perdagangan diterapkan pada Rabu (28/1/2026) dan kembali pada Kamis pagi (29/1/2026). Setelah trading halt diberlakukan, IHSG per pukul 09.59 WIB tercatat turun 835,20 poin atau 10,04 persen ke level 7.485,35. Indeks sempat menyentuh titik terendah harian di level 7.481,99 setelah dibuka di posisi 8.027,83.

Pada perdagangan hari ini, Jumat (30/1/2026), IHSG kembali dibuka menguat dan bergerak di zona hijau. IHSG naik 70,78 poin atau 0,86 persen ke level 8.302,98 pada awal sesi. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.333,05, sementara level terendahnya berada di 8.280,77.

Aktivitas transaksi terpantau cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 2,09 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp 1,75 triliun, dengan frekuensi perdagangan tercatat 159.160 kali. Secara keseluruhan, pergerakan saham cenderung positif dengan 423 saham menguat, 121 saham melemah, dan 132 saham stagnan.

Informasi lengkap mengenai analisis dampak penurunan IHSG ini disampaikan melalui pernyataan resmi Ekonom CELIOS, Bhima Yudhistira, yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026, dan data pergerakan bursa dari Bursa Efek Indonesia.