IHSG Anjlok Drastis, Bursa Efek Hentikan Perdagangan Dua Kali, Petinggi BEI dan OJK Mundur
Pasar modal Indonesia menghadapi guncangan hebat dalam sepekan terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok signifikan, memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt sebanyak dua kali. Kondisi ini kemudian berbuntut pada pengunduran diri massal sejumlah pejabat teras di BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penyebab Guncangan Pasar Modal
Guncangan di pasar saham Indonesia bermula ketika penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), memberikan peringatan serius. MSCI memutuskan untuk membekukan sementara proses penyesuaian ulang (rebalancing) indeks saham Indonesia. Keputusan ini didasari adanya isu terkait transparansi data dan aksesibilitas pasar.
Sentimen negatif tersebut langsung direspons dengan aksi jual masif oleh investor, terutama asing. Pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, IHSG bahkan sempat anjlok hingga 8 persen hanya dalam 30 menit setelah pembukaan. Peristiwa ini memicu trading halt kedua dalam sepekan, setelah kejadian serupa terjadi pada Rabu, 28 Januari 2026.
Usai trading halt dicabut, tekanan pasar belum mereda. IHSG sempat ambles lebih dari 10 persen ke level 7.485,35, yang mengakibatkan kapitalisasi pasar bursa tergerus hingga ribuan triliun rupiah.
Pejabat BEI dan OJK Ramai-ramai Mundur
Gejolak pasar yang terjadi memicu tanggung jawab moral dari para regulator. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjadi orang pertama yang menyatakan pengunduran dirinya pada Jumat, 30 Januari 2026. Iman menyebut langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar yang bergejolak selama dua hari berturut-turut.
Langkah Iman kemudian disusul secara beruntun oleh pimpinan OJK. Setidaknya ada empat pejabat tinggi OJK yang mundur, yakni Mahendra Siregar (Ketua Dewan Komisioner OJK), Mirza Adityaswara (Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK), Inarno Djajadi (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal), dan I.B. Aditya Jayaantara (Deputi Komisioner Pengawas Emiten).
Mahendra Siregar menegaskan bahwa pengunduran diri ini dilakukan untuk mendukung langkah pemulihan yang diperlukan bagi kepercayaan pasar modal Indonesia.
Langkah Cepat Penunjukan Pjs dan Anggota DK Pengganti
Meskipun terjadi kekosongan pimpinan definitif, pemerintah dan regulator bergerak cepat untuk memastikan operasional bursa tidak terganggu. Jeffrey Hendrik telah ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI untuk menjamin perdagangan tetap berjalan normal.
Di sisi OJK, Friderica Widyasari Dewi ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua DK OJK efektif mulai 31 Januari 2026. Penunjukan ini bertujuan agar fungsi pengawasan dan perlindungan konsumen tetap berjalan optimal di tengah masa transisi.
Respons Pemerintah dan Rencana Jangka Panjang
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan tidak akan menoleransi praktik manipulasi harga saham maupun “saham gorengan” yang merusak integritas pasar. Investigasi masif kini mulai dilakukan dengan melibatkan aparat penegak hukum.
“Negara tidak mentoleransi manipulasi harga saham atau praktik saham gorengan. Tindakan seperti itu merugikan investor dan merusak kredibilitas pasar modal nasional,” tegas Airlangga dalam pidatonya di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa pelemahan ini adalah shock sementara. Ia memperkirakan kondisi akan kembali stabil dalam hitungan hari karena fundamental ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa, dianggap masih sangat kuat.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah mempercepat reformasi struktural melalui demutualisasi bursa dan peningkatan batas minimum free float saham menjadi 15 persen guna meningkatkan likuiditas.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.