Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi mendesak pemerintah Jepang untuk melanjutkan tren kenaikan suku bunga dan menahan diri dari kebijakan pelonggaran fiskal lebih lanjut. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah rencana kebijakan ekonomi Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dinilai berisiko menggerus ruang fiskal negara.
Rekomendasi Kenaikan Suku Bunga Bertahap
IMF menekankan pentingnya independensi dan kredibilitas Bank of Japan (BOJ) dalam menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Lembaga tersebut memberikan dukungan terhadap langkah BOJ yang mulai menarik akomodasi moneter secara bertahap untuk membawa suku bunga kebijakan menuju tingkat netral.
Berdasarkan rekomendasi kebijakan awal yang dirilis pada Rabu (18/2/2026), IMF memproyeksikan penarikan akomodasi kebijakan harus berlanjut hingga suku bunga mencapai posisi netral pada tahun 2027. Rahul Anand, Kepala Misi IMF untuk Jepang, menyatakan bahwa bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini dan satu kali lagi pada tahun depan.
Saat ini, suku bunga kebijakan Jepang berada di level 0,75 persen, yang merupakan angka tertinggi dalam 30 tahun terakhir setelah kenaikan pada Desember lalu. Dengan inflasi yang telah melampaui target 2 persen selama hampir empat tahun, BOJ memberikan sinyal kesiapan untuk terus melakukan penyesuaian suku bunga.
Peringatan Terhadap Rencana Pemangkasan Pajak
IMF menyoroti rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi yang berjanji akan menangguhkan pajak konsumsi sebesar 8 persen atas penjualan makanan selama dua tahun. Kebijakan ini dikhawatirkan akan menambah beban fiskal dan mengurangi kemampuan pemerintah dalam merespons guncangan ekonomi di masa depan.
Menurut IMF, kebijakan fiskal jangka pendek seharusnya menahan diri dari pelonggaran lebih lanjut. Sebagai gantinya, Jepang disarankan untuk membentuk kerangka fiskal jangka menengah yang kredibel dengan parameter yang terdefinisi jelas guna menjaga kesehatan anggaran negara.
Risiko Utang dan Stabilitas Fiskal Jangka Panjang
Kondisi utang Jepang yang tinggi dan persisten menjadi perhatian serius bagi IMF. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa pembayaran bunga utang diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat dalam periode 2025 hingga 2031 seiring dengan pembaruan utang pada tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.
Berikut adalah poin-poin utama terkait kondisi fiskal Jepang menurut laporan IMF:
- Sekitar seperempat belanja pemerintah Jepang saat ini masih dibiayai melalui skema utang.
- Hampir setengah dari total utang pemerintah dimiliki oleh Bank of Japan akibat kebijakan pelonggaran moneter jangka panjang.
- Pembayaran bunga diprediksi melonjak signifikan mulai tahun 2025.
IMF juga menyarankan agar BOJ tetap waspada terhadap likuiditas pasar seiring dengan pengurangan pembelian obligasi. Jika terjadi volatilitas yang mengganggu stabilitas pasar, BOJ diharapkan siap melakukan intervensi terarah melalui operasi pembelian obligasi darurat.
Informasi lengkap mengenai rekomendasi kebijakan ekonomi ini disampaikan melalui pernyataan resmi IMF yang dirilis dalam konferensi pers di Tokyo pada Rabu, 18 Februari 2026.
