Indonesia secara resmi menerima dua unit pesawat latih tempur T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan sebagai bagian dari program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Pesawat tersebut saat ini telah berada di Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, untuk menjalani proses perakitan akhir sebelum dioperasikan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).
Proses Perakitan dan Pengiriman Resmi
Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi bahwa kedua pesawat tersebut dikirim dari Korea Selatan menggunakan kargo udara. Langkah ini merupakan bagian dari kontrak pengadaan enam unit pesawat T-50i advanced jet trainer yang telah disepakati sebelumnya oleh pemerintah Indonesia.
Terkait video yang beredar di media sosial mengenai pengangkutan komponen pesawat menggunakan truk, Rico menegaskan bahwa seluruh proses distribusi dilakukan melalui mekanisme resmi. Komponen yang tertutup pelindung hitam tersebut dipastikan telah memenuhi standar keamanan logistik militer yang berlaku.
“Kami menegaskan bahwa seluruh logistik dan pemindahan alat utama sistem persenjataan dilakukan melalui mekanisme resmi dan aman sesuai dengan peraturan yang berlaku,” ujar Rico dalam keterangannya pada Sabtu (14/2/2026).
Peran T-50i dalam Ekosistem Pertahanan Udara
Kehadiran dua unit tambahan ini akan memperkuat Skadron Udara 15 yang bermarkas di Lanud Iswahjudi. Pesawat T-50i difungsikan sebagai lead-in fighter trainer, yakni sarana pelatihan lanjutan bagi para penerbang sebelum mereka mengoperasikan jet tempur utama seperti Rafale atau F-16.
Penambahan armada ini dilakukan menyusul kedatangan tiga jet tempur Rafale asal Perancis pada Januari 2026 lalu. Secara total, Indonesia telah memesan 42 unit Rafale dari Dassault Aviation untuk meningkatkan kedaulatan wilayah udara nasional secara signifikan.
Rencana Akuisisi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
Selain matra udara, pemerintah juga tengah fokus memperkuat kekuatan laut melalui rencana akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (AL), Laksamana Muhammad Ali, menyatakan bahwa proses negosiasi dengan galangan kapal Fincantieri masih terus berjalan.
Pemerintah menargetkan kapal induk pertama Indonesia tersebut dapat tiba di tanah air sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026. Upaya ini sejalan dengan visi penguatan pertahanan terintegrasi di seluruh matra untuk menjaga stabilitas keamanan wilayah Indonesia.
Informasi mengenai perkembangan modernisasi alutsista ini disampaikan berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan dan TNI AL yang dirilis pada pertengahan Februari 2026.
