Islami

Investigasi Al Jazeera: 2.842 Warga Gaza Dilaporkan Menguap Akibat Senjata Suhu Tinggi Israel

Advertisement

Sebuah investigasi terbaru yang dirilis oleh Al Jazeera melalui laporan bertajuk “The Rest of the Story” mengungkap fakta memilukan terkait dampak serangan militer Israel di Jalur Gaza. Laporan yang disiarkan pada Senin (9/2/2026) tersebut menyebutkan bahwa sedikitnya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang tanpa jejak atau “menguap” akibat penggunaan senjata suhu tinggi sejak invasi dimulai pada Oktober 2023.

Mekanisme Biologis dan Penggunaan Senjata Termobarik

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, memberikan penjelasan mengenai fenomena hilangnya ribuan nyawa tanpa meninggalkan jenazah tersebut. Mengingat tubuh manusia terdiri dari sekitar 80 persen air, paparan energi panas yang melebihi 3.000 derajat celsius disertai tekanan besar akan membuat cairan tubuh mendidih seketika.

“Jaringan tubuh menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, itu tidak terelakkan,” ungkap Al-Bursh dalam investigasi tersebut.

Pakar militer Vasily Fatigarov menjelaskan bahwa efek ini dihasilkan oleh bom vakum atau aerosol yang menyebarkan awan bahan bakar sebelum meledak menjadi bola api raksasa. Campuran kimia dalam senjata tersebut, yang mencakup bubuk aluminium, magnesium, dan titanium, sengaja dimodifikasi untuk memperlama waktu pembakaran hingga mencapai suhu 2.500 sampai 3.000 derajat celsius.

Identifikasi Amunisi dan Dampak Serangan

Investigasi tersebut mengidentifikasi penggunaan amunisi buatan Amerika Serikat seperti MK-84, BLU-109, dan GBU-39 dalam berbagai serangan. Fatigarov menyoroti GBU-39 yang digunakan di sekolah al-Tabin, di mana bom ini dirancang untuk membunuh melalui gelombang tekanan yang merobek paru-paru dan gelombang termal yang membakar jaringan lunak tanpa merusak struktur luar bangunan secara masif.

Advertisement

Metodologi Pendataan dan Luka Keluarga Korban

Ketua Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menjelaskan bahwa angka 2.842 korban didasarkan pada pendataan lapangan yang ketat menggunakan metode eliminasi. Jika pencarian menyeluruh di lokasi ledakan tidak membuahkan hasil selain jejak biologis seperti sisa darah, maka korban diklasifikasikan sebagai “menguap”.

Kondisi ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban, seperti Yasmin Mahani dan Rafiq Badran, yang kehilangan anggota keluarga tanpa bisa memakamkan jasad mereka secara layak. Diana Buttu, pakar hukum dari Georgetown University, menegaskan bahwa tanggung jawab atas penggunaan senjata yang tidak membedakan warga sipil ini juga berada pada negara-negara pemasok senjata.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi dan laporan investigasi Al Jazeera yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement