Investigasi terbaru dari South China Morning Post (SCMP) mengungkap keterlibatan terpidana kasus kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, dalam pendanaan proyek kecerdasan buatan (AI) yang dipimpin oleh ilmuwan Ben Goertzel. Dana tersebut dilaporkan menjadi kunci bagi Goertzel untuk mengakses hibah penelitian dari pemerintah Hong Kong melalui skema pendanaan resmi.
Skema Pendanaan dan Akses Hibah Pemerintah
Berdasarkan dokumen Departemen Kehakiman AS, Epstein menyalurkan sedikitnya 113.000 dolar AS (sekitar Rp 1,9 miliar) kepada Goertzel antara tahun 2010 hingga 2015. Aliran dana ini melewati organisasi nirlaba Humanity+ sebelum diteruskan ke Novamente, perusahaan konsultan milik Goertzel. Dana tersebut digunakan sebagai “sponsor industri” agar proyek memenuhi syarat pendanaan dari Innovation and Technology Fund (ITF) pemerintah Hong Kong.
Skema ITF mensyaratkan perusahaan memperoleh 10 persen pendanaan dari sponsor industri untuk mendapatkan hingga 90 persen pembiayaan proyek dari pemerintah. Menurut direktori proyek ITF, Novamente tercatat sebagai sponsor untuk tiga proyek di Hong Kong Polytechnic University dengan total pendanaan mencapai 8,9 juta dolar Hong Kong atau setara Rp 19 miliar antara 2010 hingga 2016.
Korespondensi dan Permintaan Dana Berulang
Dokumen email menunjukkan bahwa Goertzel beberapa kali meminta dukungan finansial kepada Epstein untuk memenuhi syarat sponsor tersebut. Pada tahun 2011, ia menghubungi Epstein untuk meminta tambahan 10.000 dolar AS guna menghindari penggunaan kartu kredit pribadi. Bahkan saat reputasi Epstein memburuk pada awal 2015, Goertzel tetap meminta bantuan sebesar 25.000 dolar AS.
Dalam salah satu korespondensi, Goertzel sempat menanggapi sorotan media terhadap Epstein dengan menyebutnya sebagai publisitas negatif yang tidak berdasar. Meskipun asisten Epstein sempat menyarankan penundaan karena situasi yang sensitif, Epstein tetap menyetujui transfer dana tersebut pada hari yang sama untuk mendukung keberlanjutan riset Goertzel.
Tanggapan dan Penyesalan Ben Goertzel
Menanggapi temuan ini, Goertzel menyatakan penyesalannya telah berhubungan dengan Epstein. Ia berdalih bahwa mendapatkan dana riset untuk artificial general intelligence (AGI) pada masa itu sangat sulit dan menyita waktu, sehingga ia sulit menolak bantuan finansial yang ditawarkan. Goertzel menegaskan dirinya tidak mengetahui aktivitas ilegal Epstein dan hanya mengenalnya sebagai miliarder eksentrik.
“Melihat ke belakang, saya menyesal mengenal orang itu, atau menerima uangnya, atau berurusan dengannya,” ujar Goertzel kepada SCMP.
Komunikasi antara keduanya dilaporkan berlangsung setidaknya hingga 2018, setahun sebelum Epstein ditangkap atas tuduhan perdagangan seks federal. Sementara itu, Komisi Inovasi dan Teknologi Hong Kong menyatakan pihaknya secara rutin meninjau skema pendanaan untuk memastikan seluruh aplikasi diperiksa oleh panel profesional sesuai prosedur yang berlaku.
Informasi lengkap mengenai keterkaitan pendanaan ini disampaikan melalui laporan investigasi South China Morning Post yang merujuk pada dokumen resmi Departemen Kehakiman Amerika Serikat.
