Iran Soroti Potensi Perang Regional, Khamenei Peringatkan AS Tak Serang Teheran di Tengah Ketegangan
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara tegas memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa setiap agresi militer terhadap negaranya berpotensi memicu perang regional yang lebih luas. Pernyataan ini disampaikan Khamenei dalam pidatonya di Teheran pada Minggu (1/2/2026), di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan peringatan kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini ke Iran pada 1979.
Peringatan Keras dari Teheran
Khamenei menegaskan bahwa serangan militer terhadap Iran tidak akan berakhir sebagai konflik terbatas antara Teheran dan Washington. “Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” ujar Khamenei, dikutip dari Al Jazeera.
Dalam pidatonya, Khamenei juga menuding Amerika Serikat memiliki ambisi untuk menguasai Iran serta sumber daya minyak dan gas alamnya. Ia bahkan menyebut gelombang protes nasional yang terjadi baru-baru ini sebagai upaya kudeta yang menargetkan stabilitas negara.
Gelombang Protes Nasional dan Versi Pemerintah Iran
Protes di Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi, melemahnya nilai rial, serta dampak sanksi internasional. Aksi tersebut kemudian meluas menjadi kemarahan nasional terhadap pembatasan kebebasan sosial, krisis energi dan air, serta masalah polusi udara.
Khamenei menggambarkan kerusuhan itu sebagai pemberontakan yang secara spesifik menargetkan kantor pemerintahan, fasilitas IRGC, bank, dan masjid. Pemerintah Iran menuding kelompok bersenjata yang didanai oleh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang kekerasan selama protes. Media pemerintah melaporkan sebanyak 3.117 orang tewas, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil.
Perbedaan Data Korban Jiwa dan Respons Publik
Berbeda dengan versi resmi pemerintah, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi hak asasi manusia internasional melaporkan jumlah korban jiwa yang jauh lebih besar. Pelapor khusus PBB menyebut jumlah korban kemungkinan melebihi 20.000, meskipun verifikasi terhambat oleh pemadaman internet.
Sementara itu, aktivis berbasis di Amerika Serikat mengeklaim sedikitnya 6.713 orang tewas dan masih menyelidiki ribuan kasus lainnya. Pemerintah Iran merespons dengan mengirim pesan singkat kepada warga untuk membantah klaim korban yang dianggap tidak akurat. Namun, seorang warga Iran kepada Al Jazeera menyatakan, “Pesan teks tidak dapat menghapus darah.”
Respons AS dan Upaya Meredakan Ketegangan Internal
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih berharap Iran bersedia mencapai kesepakatan dengan Washington. Trump menilai peringatan Khamenei sebagai pernyataan yang wajar dari seorang pemimpin negara. “Semoga kita bisa membuat kesepakatan, dan jika tidak, kita akan melihat apa yang terjadi,” kata Trump.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga mengumumkan rencana untuk mengizinkan perempuan mengendarai sepeda motor sebagai salah satu upaya meredakan ketegangan sosial di dalam negeri.
Unjuk Kekuatan Politik dan Militer Iran
Di parlemen Iran, anggota parlemen garis keras kembali meneriakkan slogan “Matilah Amerika” sebagai respons atas keputusan Uni Eropa yang menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris. Iran membalas langkah tersebut dengan melarang seluruh angkatan bersenjata Uni Eropa.
Pemerintah Iran juga menggelar parade militer besar yang melibatkan IRGC, tentara, dan kepolisian di Teheran. Khamenei mengeklaim jutaan warga mengikuti demonstrasi pro-pemerintah, sementara jumlah peserta protes nasional disebut jauh lebih kecil.
Informasi mengenai ketegangan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dirilis pada Minggu (1/2/2026) dan laporan media internasional.