Finansial

Iran Tutup Sebagian Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak Akibat Konflik Nuklir

Advertisement

Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Teheran menggelar latihan militer besar-besaran di Selat Hormuz pada Selasa (17/2/2026). Langkah ini dilakukan bertepatan dengan berlangsungnya perundingan nuklir tidak langsung antara kedua negara di Jenewa, Swiss, yang dimediasi oleh Oman.

Latihan Militer Garda Revolusi di Selat Hormuz

Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan sementara sebagian wilayah Selat Hormuz untuk memastikan keselamatan navigasi selama uji coba rudal dan operasi angkatan laut. Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), jalur sempit ini merupakan titik kritis yang dilewati sekitar 18 hingga 19 juta barel minyak per hari, atau setara dengan seperlima konsumsi dunia.

Selain minyak mentah, Selat Hormuz juga menjadi jalur utama bagi seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global. Penutupan ini memicu kekhawatiran serius bagi negara-negara produsen di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab yang bergantung pada jalur tersebut untuk ekspor energi.

Diplomasi di Jenewa dan Pernyataan Pemimpin Negara

Di tengah unjuk kekuatan militer, delegasi kedua negara tetap melanjutkan pembicaraan mengenai pembatasan pengayaan uranium dan pemulihan pengawasan internasional. Presiden AS Donald Trump menyatakan harapannya agar Iran bersikap lebih kooperatif dalam mencapai kesepakatan baru guna menghindari konsekuensi yang lebih berat.

“Saya harap mereka akan lebih masuk akal,” ujar Trump menanggapi jalannya negosiasi tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya membawa usulan konkret untuk mencapai kesepakatan yang adil. Namun, ia menekankan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Advertisement

Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia

Para analis pasar energi memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz dapat memicu inflasi global. Dalam kondisi ekstrem, harga minyak mentah diprediksi mampu melampaui angka 100 dollar AS per barel jika stabilitas di kawasan tersebut tidak segera pulih.

Meskipun terdapat kemajuan awal dalam penyusunan draf kesepakatan di Jenewa, perbedaan pandangan mengenai hak pengayaan uranium dan program misil balistik Iran masih menjadi hambatan utama. Pasar global kini terus memantau dinamika militer dan hasil diplomasi yang tengah berlangsung.

Informasi lengkap mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah dan hasil perundingan nuklir ini merujuk pada pernyataan resmi pemerintah Iran dan laporan diplomatik yang dirilis di Jenewa pada Rabu, 18 Februari 2026.

Advertisement