Islami

Jepang Bebaskan Kapten Kapal China Zheng Nianli Usai Jaminan Pembayaran Uang Tebusan Beijing

Advertisement

Pemerintah Jepang resmi membebaskan Zheng Nianli (47), kapten kapal penangkap ikan asal China, pada Jumat (13/2/2026). Pembebasan ini dilakukan sehari setelah penangkapan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang akibat penolakan terhadap prosedur inspeksi otoritas setempat.

Detail Penangkapan dan Lokasi Kejadian

Kapal yang dinakhodai Zheng dicegat oleh Badan Perikanan Jepang pada Kamis (12/2/2026). Lokasi penangkapan berada di koordinat 89,4 mil laut atau sekitar 166 kilometer di sebelah selatan-barat daya Pulau Meshima. Pemerintah Jepang menegaskan bahwa area tersebut merupakan wilayah kedaulatan yang tidak berada dalam status sengketa.

Badan Perikanan Jepang menyatakan bahwa kapal tersebut terpaksa dihentikan karena kapten menolak mematuhi perintah untuk menjalani inspeksi rutin. Identitas kapten kapal dikonfirmasi sebagai Zheng Nianli, seorang warga negara China berusia 47 tahun.

Mekanisme Pembebasan dan Respon Beijing

Berdasarkan laporan stasiun televisi NHK, Zheng dibebaskan setelah Pemerintah China memberikan jaminan untuk membayar uang jaminan yang ditetapkan. Langkah ini diambil menyusul desakan Beijing agar Tokyo menghormati keselamatan serta hak-hak awak kapal warga negaranya. Insiden ini tercatat sebagai penyitaan kapal China pertama oleh Badan Perikanan Jepang sejak tahun 2022.

Hingga Sabtu (14/2/2026) pagi, pihak Badan Perikanan Jepang belum memberikan keterangan tambahan terkait detail teknis pembebasan tersebut. Sejumlah upaya konfirmasi melalui sambungan telepon yang dilakukan oleh media internasional belum mendapatkan jawaban resmi.

Advertisement

Konteks Ketegangan Diplomatik Jepang-China

Insiden ini terjadi di tengah memanasnya hubungan bilateral kedua negara. Tiga bulan sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu ketegangan diplomatik terkait isu Taiwan. Takaichi menyatakan bahwa Jepang akan melakukan intervensi militer jika Beijing berupaya merebut pulau tersebut dengan kekerasan.

Sebagai respons atas sikap Tokyo, Beijing telah melakukan sejumlah langkah balasan, di antaranya:

  • Memanggil Duta Besar Jepang di China untuk memberikan nota protes.
  • Mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) bagi warga China ke Jepang.
  • Menggelar latihan militer udara bersama Rusia di kawasan tersebut.
  • Memperketat kontrol ekspor barang-barang yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer, termasuk mineral langka.

Rekam Jejak Konflik Perairan

Peristiwa ini membangkitkan ingatan pada krisis diplomatik besar tahun 2010 yang dipicu oleh penangkapan serupa di lepas pantai pulau-pulau di Laut China Timur. Penangkapan kapten kapal saat itu sempat melumpuhkan hubungan diplomatik kedua negara dalam waktu yang cukup lama.

Informasi lengkap mengenai perkembangan isu ini disampaikan melalui laporan resmi Badan Perikanan Jepang dan pernyataan Pemerintah China yang dirilis melalui saluran berita nasional masing-masing negara.

Advertisement