Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa era “tahun-tahun Brexit” bagi Inggris kini hampir berakhir. Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, Jerman, Starmer menyerukan hubungan keamanan yang lebih erat dengan Eropa guna menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Visi Otonomi Pertahanan dan Hubungan dengan Amerika Serikat
Starmer mendesak pengurangan ketergantungan terhadap Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan transatlantik, menyusul ancaman Trump terkait pengambilalihan Greenland serta sikap kontroversialnya terhadap sejumlah pemimpin negara.
Meskipun mendorong otonomi Eropa yang lebih besar, Starmer menekankan bahwa hal ini bukan berarti penarikan diri AS dari kawasan tersebut. Ia menyebut langkah ini sebagai jawaban atas tuntutan pembagian beban keamanan yang lebih adil antarnegara sekutu di masa depan.
“Tidak ada keamanan Inggris tanpa keamanan Eropa. Tidak ada keamanan Eropa tanpa keamanan Inggris. Jadi, kita harus bekerja sama,” tegas Starmer.
Eropa Sebagai Raksasa Tidur
Dalam forum tersebut, Starmer memuji Eropa sebagai “raksasa tidur” yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer besar untuk menghadapi ancaman luar. Ia menyoroti potensi kolektif benua tersebut yang dinilai belum maksimal karena adanya celah koordinasi dan duplikasi di berbagai area industri.
- Ekonomi Eropa diklaim sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan Rusia.
- Eropa memiliki kapabilitas pertahanan besar namun sering kali terfragmentasi.
- Perlunya membangun basis industri bersama untuk mempercepat produksi alat utama sistem persenjataan.
Kritik dari Pihak Oposisi
Rencana integrasi keamanan ini mendapat reaksi keras dari Partai Konservatif. Menteri Luar Negeri bayangan, Dame Priti Patel, menuduh Starmer sedang menyerahkan kedaulatan Inggris kepada Uni Eropa (UE) melalui kebijakan integrasi yang lebih dalam.
Patel menilai bahwa meskipun Inggris tidak boleh terlalu bergantung pada Amerika, pemerintah tidak seharusnya memberikan “cek kosong” kepada Eropa. Ia juga mengkritik sikap Starmer terhadap China yang dianggap merusak hubungan istimewa Inggris-AS dan membahayakan stabilitas negara.
Informasi mengenai arah kebijakan luar negeri Inggris ini merujuk pada pernyataan resmi PM Keir Starmer dalam Konferensi Keamanan Munich yang dilaporkan pada Februari 2026.
