Berita

Kemenag Imbau Umat Islam Siapkan Diri Jelang Ramadhan 2026 Melalui Lima Aspek Utama Ini

Advertisement

Kementerian Agama Republik Indonesia mengimbau umat Islam untuk mulai melakukan persiapan menyeluruh menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 2026. Persiapan ini dinilai krusial agar ibadah puasa tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan mampu menghadirkan perubahan spiritual yang mendalam bagi setiap individu.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa persiapan harus dilakukan sejak dini. Fokus utama persiapan ini mencakup kesiapan batin, pemahaman ilmu ibadah, kondisi fisik, hingga pengelolaan harta dan kepedulian sosial.

Penyucian Jiwa Melalui Taubat Nasuha

Arsad Hidayat menegaskan bahwa fondasi terpenting dalam menyambut bulan suci adalah kesiapan batin melalui proses penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Menurutnya, umat Islam perlu melakukan taubat yang tulus untuk membersihkan hati dari noda dosa sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Langkah ini sejalan dengan perintah dalam Al-Qur’an, khususnya QS At-Tahrim ayat 8, yang menyerukan umat beriman untuk melakukan taubatan nasuha. “Tanpa taubat, Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna spiritual,” ujar Arsad pada Selasa (10/2/2026).

Membersihkan Hati dan Relasi Sosial

Selain hubungan dengan Tuhan, kondisi hati terhadap sesama manusia juga menjadi sorotan. Arsad mengingatkan bahwa rasa dengki, permusuhan, dan kebiasaan maksiat dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk menikmati kelezatan ibadah di bulan Ramadhan.

Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum ini untuk saling memaafkan dan memperbaiki relasi sosial. Dengan demikian, umat dapat memasuki bulan suci dengan beban batin yang ringan setelah membersihkan diri dari konflik personal maupun sosial.

Penguatan Literasi Fikih Puasa

Kemenag juga menekankan pentingnya bekal ilmu dalam menjalankan ibadah. Arsad menyebutkan bahwa totalitas ibadah mustahil diraih tanpa pemahaman fikih yang memadai. Hal ini bertujuan agar puasa yang dijalankan tidak berakhir sia-sia atau hanya mendapatkan rasa lapar dan haus.

Advertisement

Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, terdapat tiga tingkatan puasa: puasa orang awam, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Pemahaman ilmu diharapkan mampu membawa umat naik kelas menuju puasa yang benar-benar menjaga hati dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Kesiapan Fisik dan Adaptasi Ibadah

Aspek fisik tidak luput dari perhatian Kemenag. Arsad menyarankan umat Islam untuk mulai melatih ketahanan tubuh agar siap menghadapi intensitas ibadah yang meningkat selama Ramadhan. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban sebagaimana tradisi Rasulullah SAW.

Langkah adaptasi fisik lainnya meliputi:

  • Menjaga pola makan yang sehat dan bergizi.
  • Mengurangi kebiasaan begadang yang tidak perlu.
  • Membangun kebiasaan bangun di sepertiga malam untuk persiapan sahur dan salat malam.

Manajemen Harta dan Kedermawanan

Persiapan terakhir berkaitan dengan manajemen harta untuk mendukung kedermawanan. Mengingat Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala sedekah, umat diimbau menyiapkan anggaran khusus untuk zakat, infak, dan sedekah sejak jauh hari.

Arsad mengutip perumpamaan ulama Abu Bakar al-Balkhi yang menyebut Rajab sebagai bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan sebagai masa panen. Perencanaan yang matang diharapkan dapat memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat luas selama bulan suci berlangsung.

Informasi mengenai panduan persiapan ibadah ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama pada Februari 2026.

Advertisement