Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengonfirmasi bahwa Jawa Tengah menjadi produsen utama komoditas cumi dan ikan layang secara nasional pada awal tahun 2026. Sementara itu, produksi ikan tongkol tercatat paling tinggi di wilayah Kalimantan Barat, disusul oleh Jawa Barat dan Jawa Timur dalam peta sebaran hasil tangkapan nasional.
Rincian Produksi Komoditas Perikanan Unggulan
Direktur Kepelabuhanan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Ady Candra, menjelaskan bahwa Jawa Tengah memimpin produksi cumi dengan volume mencapai 3.363 ton. Posisi berikutnya ditempati oleh DKI Jakarta dengan 2.730 ton, Jawa Timur 632 ton, Maluku 471 ton, dan Jawa Barat 383 ton.
Untuk komoditas ikan layang, Jawa Tengah kembali mencatatkan angka tertinggi sebesar 3.957 ton. Sebaran produksi lainnya meliputi Sulawesi Utara sebanyak 1.509 ton, Sulawesi Tenggara 1.389 ton, Sumatera Utara 1.193 ton, dan DKI Jakarta 1.124 ton. Ady menyebut dominasi ini menunjukkan konsentrasi wilayah tangkapan yang masih kuat di pulau Jawa dan Sulawesi.
Berikut adalah data produksi untuk komoditas tongkol dan kerapu di beberapa wilayah utama:
| Komoditas | Wilayah Tertinggi | Volume (Ton) |
| Ikan Tongkol | Kalimantan Barat | 1.139 |
| Ikan Tongkol | Jawa Barat | 1.083 |
| Ikan Kerapu | Jawa Timur | 493 |
| Ikan Kerapu | DKI Jakarta | 74 |
Prognosis Stok Ikan dan Dampak Cuaca Ekstrem
Pemerintah memastikan ketersediaan ikan secara nasional dalam kondisi aman sepanjang periode Ramadhan hingga Idul Fitri 2026. Meski demikian, Ady mengakui adanya tekanan produksi akibat faktor cuaca ekstrem pada awal tahun. Berdasarkan prognosis KKP, produksi perikanan tangkap hingga Maret 2026 diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton.
“Terkait dengan ketersediaan stok di sektor hulu di perikanan tangkap sampai dengan Maret 2026 ini prognosis kita ada sekitar 7,3 juta ton. Ini sedikit agak turun memang karena pola musim dan juga pola penangkapan yang memang sangat terganggu dengan faktor cuaca,” ujar Ady dalam konferensi pers di Gedung KKP, Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026).
Kondisi musim barat yang ditandai dengan curah hujan tinggi dan gelombang besar menjadi penyebab utama terbatasnya aktivitas nelayan. Namun, KKP memperkirakan produksi akan kembali meningkat pada awal Maret seiring membaiknya cuaca dan intensitas melaut nelayan di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) menjelang lebaran.
Kondisi Harga dan Tren Pasar Nasional
Dari sisi harga, KKP mencatat pergerakan yang relatif stabil untuk sebagian besar komoditas utama. Meskipun terdapat kenaikan harga cakalang di Sulawesi dan cumi di Jakarta serta Jawa Tengah, secara agregat nasional harga masih terkendali. Ikan tongkol juga mengalami fluktuasi harga di wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara akibat tingginya konsumsi lokal.
Informasi lengkap mengenai ketersediaan dan sebaran produksi perikanan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dirilis pada 19 Februari 2026.
