Malaysia kini tengah menghadapi fenomena “tsunami durian” yang menyebabkan harga buah tersebut jatuh ke titik terendah dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini dipicu oleh pergeseran preferensi konsumen di China serta kendala logistik yang menghambat distribusi ekspor ke negara tujuan utama tersebut.
Penurunan Keuntungan dan Stok Melimpah
Para petani di Malaysia melaporkan penurunan keuntungan yang signifikan mencapai 60 persen pada musim ini. Salah satu petani di wilayah Raub, Liew Jia Soon, mengungkapkan bahwa ratusan buah durian miliknya tidak laku terjual dan menumpuk di pusat pengumpulan akibat permintaan ekspor yang menurun tajam.
Pada Desember 2025, harga durian di tingkat petani jatuh ke level 10 ringgit atau sekitar Rp 43.000 per kilogram. Angka ini hanya sepersepuluh dari harga normal saat masa kejayaan ekspor beberapa tahun lalu. Penurunan harga yang drastis ini menjadi pukulan telak bagi para produsen yang telah melakukan investasi besar-besaran.
Pergeseran Tren Konsumen di China
Masalah utama yang dihadapi industri durian Malaysia bukanlah hilangnya minat konsumen China, melainkan perubahan cara mereka mengonsumsi buah tersebut. Saat ini, pembeli di China lebih menyukai durian segar dalam bentuk utuh dibandingkan durian beku (frozen) yang selama ini menjadi andalan ekspor Malaysia.
Presiden Asosiasi Produsen Durian Malaysia, Eric Chan, menekankan pentingnya penyesuaian rantai pasok untuk mengakomodasi perubahan permintaan ini. Namun, pengiriman durian segar menghadapi kendala besar berupa terbatasnya jadwal penerbangan langsung dari Malaysia ke China, sehingga pasokan justru menumpuk di dalam negeri.
Dampak Ekspansi Lahan dan Persaingan Global
Krisis ini juga merupakan dampak dari ekspansi lahan besar-besaran yang dilakukan pada periode 2016 hingga 2019. Data pemerintah menunjukkan luas kebun durian meningkat dari 163.000 hektare pada 2016 menjadi lebih dari 227.000 hektare pada 2024, dengan total produksi nasional mencapai 568.000 ton.
Selain kelebihan pasokan, Malaysia harus bersaing ketat dengan negara eksportir lain seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Penasihat Durian Academy, Lim Chin Khee, menyebutkan bahwa konsumen di China kini jauh lebih selektif dan ketat dalam bernegosiasi harga seiring dengan kondisi ekonomi global yang dinamis.
Upaya Penyelamatan dan Pasar Alternatif
Di tengah kesulitan petani, konsumen lokal di Malaysia justru menikmati harga durian yang jauh lebih terjangkau. Pemerintah Malaysia juga mulai melakukan langkah intervensi dengan membeli sebagian hasil panen yang tidak terserap pasar untuk membantu stabilitas pendapatan petani di lapangan.
Para eksportir kini mulai melirik pasar alternatif seperti Taiwan dan Peru untuk mengurangi ketergantungan pada China. Meski demikian, Stephen Chow dari Chow Kai Pheng Enterprise memperkirakan bahwa kondisi kelebihan pasokan ini masih akan berlangsung dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Informasi mengenai kondisi industri durian ini dihimpun berdasarkan laporan resmi dari Asosiasi Produsen Durian Malaysia dan data perkembangan pasar ekspor per Februari 2026.
