Menteri Perdagangan Budi Santoso mengimbau para produsen minyak goreng untuk meningkatkan produksi merek pendamping atau second brand. Langkah ini bertujuan untuk memperluas pilihan masyarakat serta mengurangi ketergantungan pasar terhadap MinyaKita sebagai satu-satunya opsi minyak goreng kemasan sederhana.
Diversifikasi Produk dan Ketersediaan Pasar
Budi menjelaskan bahwa meski produksi MinyaKita saat ini dalam kondisi melimpah, keberadaan second brand dinilai krusial agar konsumen memiliki opsi lebih banyak dalam memenuhi kebutuhan harian. Ia berharap produsen memperbanyak varian merek agar pasokan tetap terjaga dan pasar tidak terpaku pada satu produk saja.
Berdasarkan data kementerian, sebelum program MinyaKita berjalan masif, terdapat sekitar 50 jenis merek second brand di pasaran. Namun, jumlah tersebut menyusut setelah banyak produsen beralih memproduksi MinyaKita yang merupakan bagian dari kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).
Peran Second Brand sebagai Penyeimbang
Ketergantungan pada satu merek membuat MinyaKita sering menjadi indikator tunggal stabilitas harga dan ketersediaan stok. Hal ini sering kali memicu persepsi kelangkaan di tengah masyarakat saat MinyaKita tidak tersedia di rak pedagang, padahal merek lain sebenarnya masih tersedia di pasar.
Produk second brand sendiri tersedia dalam berbagai format kemasan dan volume, antara lain:
- Kemasan ukuran 250 mililiter.
- Kemasan ukuran 500 mililiter.
- Variasi merek dan jenis yang beragam sesuai produsen.
- Harga yang lebih bervariasi mengikuti mekanisme pasar.
Kondisi Produksi dan Distribusi di Daerah
Menanggapi arahan tersebut, Direktur Utama PT Indokarya Internusa Palembang, Kanna, mengonfirmasi bahwa stok bahan baku produksi saat ini dalam kondisi aman. Perusahaan tersebut melaporkan kapasitas produksi harian yang cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan wilayah.
| Kapasitas Produksi | 72.000 Liter per Hari |
| Volume Distribusi | 6.000 Dus per Hari |
| Isi per Dus | 12 Pak (12 Liter) |
Sekitar 80 persen distribusi produk disalurkan ke wilayah Sumatera Selatan melalui kerja sama dengan distributor dan Bulog. Sebagian produk lainnya dikirim ke Jambi serta sejumlah provinsi di sekitar Sumatera Selatan. Meski stok bahan baku aman, Kanna mencatat adanya tantangan berupa harga bahan baku yang terus mengalami kenaikan secara bertahap.
Informasi lengkap mengenai kebijakan produksi minyak goreng ini disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri Perdagangan Budi Santoso saat melakukan kunjungan kerja di Palembang pada Kamis, 12 Februari 2026.
