Berita

Mendagri Targetkan Normalisasi Pascabencana Sumatera Rampung 3 Tahun, Fokus pada Sekolah dan Jalan

Advertisement

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa proses normalisasi penuh di wilayah terdampak bencana di Sumatera diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. Fokus utama pemerintah saat ini adalah mempercepat rehabilitasi infrastruktur jalan dan sarana pendidikan yang tersebar di 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Target Normalisasi Infrastruktur Jalan

Tito menjelaskan bahwa pembersihan material lumpur di jalan-jalan kabupaten dan provinsi menjadi tantangan teknis yang memakan waktu. Meskipun jalan provinsi saat ini sudah dapat dilalui secara fungsional, proses pengerjaan untuk mempermanenkan infrastruktur tersebut memerlukan durasi yang lebih panjang.

“Kalau normalisasi penuh, saya sampaikan mungkin kira-kira 2-3 tahun. Karena memang mengeroknya termasuk tadi jalan-jalan yang ke kabupaten, jalan provinsi. Ini mengerjakannya kan sangat banyak ruas yang kena,” ujar Tito di Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026).

Prioritas Rehabilitasi Sarana Pendidikan

Pemerintah juga memberikan atensi khusus pada perbaikan fasilitas pendidikan, mulai dari PAUD hingga pondok pesantren yang terdampak Siklon Senyar. Langkah ini diambil untuk memastikan kegiatan belajar mengajar kembali normal. Di Sumatera Barat, layanan pendidikan dilaporkan sudah mulai berjalan secara fungsional.

Namun, kondisi di Aceh dan Sumatera Utara masih memerlukan penanganan lebih lanjut. Di Aceh, kerusakan fasilitas pendidikan tergolong luas, mencakup berbagai jenjang sekolah. Sementara di Sumatera Utara, selain sekolah umum, fasilitas pendidikan keagamaan dan rumah ibadah juga menjadi prioritas rehabilitasi.

Advertisement

Pemulihan Layanan Kesehatan dan Data Pengungsi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan kemajuan signifikan dalam pemulihan layanan kesehatan. Saat ini, sebanyak 414 puskesmas di wilayah terdampak sudah kembali beroperasi. Dari total 1.265 puskesmas, tersisa 152 unit yang masih dalam tahap revitalisasi akibat rendaman lumpur.

Di sisi lain, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan penurunan drastis jumlah pengungsi. Dari puncaknya yang mencapai satu juta jiwa pada Desember 2025, kini tersisa 47.462 pengungsi. Mayoritas pengungsi berada di Aceh, diikuti Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

ProvinsiKabupaten/Kota Perlu Atensi Khusus
Sumatera BaratPadang Pariaman, Agam
Sumatera UtaraTapanuli Utara, Tapanuli Tengah
AcehPidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Timur, Bireuen, Gayo Lues

Pemerintah berkomitmen untuk merelokasi pengungsi yang masih bertahan di tenda ke hunian sementara (huntara) tahap pertama. Informasi lengkap mengenai perkembangan pemulihan ini disampaikan dalam koordinasi lintas kementerian di Jakarta pada 11 Februari 2026.

Advertisement