Kabupaten Pati di Jawa Tengah tak hanya dikenal sebagai Bumi Mina Tani atau sentra bandeng presto. Di pesisir utara, tepatnya di Kecamatan Juwana, tersimpan sebuah pulau kecil yang memeluk ribuan misteri dan narasi sejarah yang tak habis dikupas. Masyarakat mengenalnya sebagai Pulau Seprapat. Terletak di muara Sungai Silugonggo, Desa Bendar, pulau seluas kurang lebih seperempat hektare ini menjadi titik temu antara keindahan alam pesisir, jejak penyebaran agama Islam, hingga desas-desus mistis yang menyelimuti rimbunnya pohon bakau.
Pulau Seprapat bukan sekadar daratan yang menyembul di tengah aliran sungai. Bagi warga Juwana dan sekitarnya, pulau ini adalah ruang memori kolektif. Nama “Seprapat” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti seperempat.
Etimologi ini berakar kuat pada legenda sosok Dampo Awang, seorang pelaut dan saudagar kaya asal Tiongkok yang konon sempat singgah di pesisir Jawa. Syahdan, Dampo Awang mengalami sebuah kekalahan atau kejadian yang memaksanya meninggalkan seperempat dari harta kekayaannya di pulau ini sebelum melanjutkan perjalanan.
Jejak Spiritual dan Karomah Ki Lodang Datuk
Di tengah kerindangan pepohonan tua yang mendominasi pulau, berdiri sebuah bangunan makam berbentuk mushala yang dikeramatkan. Inilah pesarean dari tokoh sentral dalam sejarah spiritual setempat, yakni Ki Lodang Datuk.
Sosok yang juga dikenal dengan nama Syekh Datuk Lodang Wali Joko ini diyakini sebagai seorang ulama dan petapa sakti yang hidup pada masa transisi antara runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berkembangnya syiar Islam di tanah Jawa.
Keberadaan Ki Lodang Datuk di Pulau Seprapat bukanlah tanpa alasan. Menurut penuturan lisan yang diwariskan turun-temurun, beliau adalah sosok yang memilih jalan hidup selibat (tidak menikah) dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengembleng ilmu jaya kawijayan serta menyebarkan nilai-nilai luhur agama.
“Mbah Ki Lodang Datuk itu bukan sekadar penjaga pulau dalam arti mistis, melainkan penyebar agama yang disegani di wilayah pesisir. Beliau dikenal memiliki karomah luar biasa,” ujar Darnawi, salah seorang warga lokal yang kerap berziarah, sebagaimana dikutip dari mondes.co.id.
Salah satu fragmen legenda yang paling melekat pada sosok Ki Lodang Datuk adalah kepemilikan pusaka sakti yang mampu menyatukan kembali benda-benda yang telah terpisah atau terpotong.
Konon, untuk membuktikan kesaktian pusaka tersebut, ia pernah menyambung kembali badan ular yang terbelah hingga hidup kembali. Kisah ini menjadi simbol kekuatan spiritualitasnya yang mampu merangkul kembali hal-hal yang tercerai-berai menjadi satu kesatuan yang utuh.
Mitos Kera dan Bayang-Bayang Pesugihan
Namun, layaknya tempat keramat di Indonesia, Pulau Seprapat tak lepas dari sisi gelap yang berkembang di tengah imajinasi publik. Pulau ini dihuni oleh kawanan kera yang kerap menampakkan diri di dahan-dahan pohon bakau.
Keberadaan kera-kera ini melahirkan mitos pesugihan yang sangat kuat. Konon, kera-kera di sana bukanlah hewan biasa, melainkan jelmaan dari para pencari kekayaan instan yang telah meninggal dunia setelah melakukan ritual di pulau tersebut.
Mitos ini menyebutkan bahwa bagi mereka yang bersekutu dengan kekuatan gaib di Pulau Seprapat, rohnya akan terjebak menjadi kera setelah ajal menjemput. Meskipun secara ilmiah keberadaan kera tersebut dikarenakan habitat hutan bakau yang mendukung, cerita tutur tentang “kera jadi-jadian” ini tetap menjadi daya tarik sekaligus peringatan bagi para pengunjung.
Hal ini pula yang membuat suasana Pulau Seprapat terasa sakral sekaligus mendebarkan saat matahari mulai tenggelam di balik Gunung Muria.
Di balik aura mistisnya, pemerintah daerah dan masyarakat setempat sebenarnya berupaya menggeser stigma negatif tersebut menjadi potensi wisata religi yang edukatif. Hal ini terlihat dari rutinnya pelaksanaan tradisi Sedekah Laut dan pengajian akbar yang dipusatkan di sekitar makam Ki Lodang Datuk setiap bulan Syawal.
Antara Tradisi dan Masa Depan Wisata
Saat ini, Pulau Seprapat perlahan mulai bertransformasi. Akibat perubahan alam dan erosi sungai, pulau yang dulunya berada di tengah alur Sungai Silugonggo kini tampak hampir menyatu dengan daratan di sisi barat. Akses menuju lokasi pun kini lebih mudah melalui jalur darat dari jalan pantura Juwana ke arah utara sejauh satu kilometer.
Bagi pengunjung yang datang, pemandangan kapal-kapal nelayan besar yang bersandar di sepanjang dermaga Juwana memberikan panorama yang eksotik, terutama saat senja. Tak ada tiket masuk resmi, namun pengunjung diharapkan menjaga kesopanan dan kebersihan, mengingat area ini masih dianggap sebagai situs suci oleh penduduk Desa Bendar.
Pulau Seprapat, dengan segala kontradiksi antara karomah Ki Lodang Datuk dan mitos pesugihannya, tetap menjadi salah satu permata tersembunyi di Kabupaten Pati. Ia adalah pengingat bahwa di balik arus modernitas pelabuhan ikan Juwana, masih ada ruang tenang yang menyimpan rahasia masa lalu, sebuah seperempat tanah yang menyimpan sepenuh makna sejarah dan spiritualitas.
