Berita

Mengapa Ruang Hening Penting di Era AI? Harari dan Pemikir Indonesia Ungkap Jawabannya

Setiap jam, bahkan per menit, gawai kita tak henti berdering dengan notifikasi dari berbagai platform media sosial atau panggilan. Di tengah laju kecerdasan buatan (AI), big data, dan algoritma, manusia hidup dalam dunia yang semakin bising, bukan hanya oleh suara fisik, tetapi juga banjir informasi dan tuntutan respons cepat. Namun, sejarawan dan filosof terkemuka, Yuval Noah Harari, menyoroti bahwa tantangan terbesar era AI bukan sekadar teknologi, melainkan kemampuan manusia menjaga kesadaran, keheningan, dan relasi bermartabat.

Bahaya dalam Senyap: Pandangan Yuval Noah Harari

Harari, meskipun mengakui AI sebagai capaian luar biasa peradaban, mengingatkan akan bahaya yang lebih sunyi. Ia menyebut algoritma berpotensi mengenal manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Algoritma mampu membaca pola perilaku, emosi, dan preferensi dengan presisi tinggi, sementara manusia sering kehilangan waktu untuk refleksi diri.

Tanpa ruang refleksi, manusia berisiko hidup reaktif, dikendalikan oleh arus digital alih-alih kesadaran batin. Oleh karena itu, Harari menekankan pentingnya ruang hening (silence) sebagai tindakan sadar untuk melindungi otonomi batin. Keheningan, menurutnya, bukan kemunduran, melainkan esensial agar manusia tetap menjadi subjek, bukan objek data yang dikuasai teknologi.

Resonansi Kearifan Lokal: Pemikir Indonesia dan Ruang Hening

Gagasan ruang hening ini menemukan resonansi kuat dalam pemikiran tokoh-tokoh Indonesia, jauh sebelum era AI. Para pemikir lokal telah menegaskan pentingnya refleksi batin sebagai fondasi pendidikan, iman, etika, dan kehidupan bersama.

Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan dan Ketenangan Batin

Dalam dunia pendidikan, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah menuntun kodrat anak agar menjadi manusia merdeka. Proses menuntun ini tidak mungkin berlangsung dalam kebisingan dan paksaan. Ki Hadjar memperkenalkan konsep Neng–Ning–Nung–Nang: ketenangan, kejernihan, keteguhan, dan keberanian bertindak, yang dimulai dari keheningan batin.

Ia seakan mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika kecepatan, capaian, dan algoritma penilaian. Tanpa ruang hening, sekolah berisiko hanya melahirkan manusia terampil, tetapi rapuh secara moral.

Nurcholish Madjid: Spiritualisme di Tengah Modernitas

Pesan serupa datang dari Nurcholish Madjid atau Cak Nur, yang menegaskan bahwa modernitas tidak harus mematikan spiritualitas. Justru di tengah modernitas, iman perlu menjadi lebih reflektif dan membebaskan. Cak Nur mengkritik keberagamaan yang dangkal dan simbolik, yang ramai di luar tetapi miskin kedalaman batin.

Dalam konteks AI, kritik ini semakin relevan ketika manusia mudah terjebak pada “penghambaan baru” seperti data dan popularitas digital. Ruang hening menjadi sarana pembebasan, membantu manusia kembali pada tauhid eksistensial: hanya Tuhan yang mutlak, sementara teknologi hanyalah alat.

Franz Magnis-Suseno: Etika dan Tanggung Jawab Moral

Dari sisi etika, Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa moralitas tidak lahir dari sistem, melainkan dari kesadaran manusia. Teknologi, secerdas apa pun, tidak memiliki nurani. Tanpa refleksi, manusia mudah bersembunyi di balik sistem dan berkata, “ini keputusan algoritma.”

Ruang hening, dalam kerangka Magnis, adalah syarat agar manusia tetap bertanggung jawab. Keheningan memberi jarak kritis untuk bertanya: apakah ini adil, manusiawi, dan bermartabat? Tanpa jeda refleksi, AI berisiko menjadi dalih baru untuk menghindari tanggung jawab moral.

Y.B. Mangunwijaya: Keheningan Berbuah Keberpihakan

Sementara itu, Y.B. Mangunwijaya mengingatkan bahwa keheningan sejati tidak berhenti pada batin, tetapi berbuah pada keberpihakan. Bagi Romo Mangun, refleksi dan doa bukan pelarian dari realitas sosial, melainkan sumber keberanian untuk membela martabat manusia, terutama mereka yang kecil dan tersingkir.

Di tengah dunia yang bising oleh proyek, angka, dan efisiensi—yang kini dipercepat oleh AI—Mangun menegaskan pentingnya mendengar suara yang sering tak terdengar. Keheningan menumbuhkan kepekaan, dan kepekaan melahirkan solidaritas.

Kearifan Nusantara: Refleksi dalam Komunitas Lokal

Kearifan lokal Nusantara pun menyimpan pesan serupa. Tradisi semedi, tapa, lelaku, musyawarah adat, hingga budaya mendengar dalam komunitas-komunitas lokal menunjukkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari permenungan. Ini sangat kontras dengan logika algoritma yang serba instan.

Kearifan lokal mengajarkan bahwa tidak semua persoalan harus segera dijawab; sebagian perlu diendapkan agar keputusan yang diambil benar-benar bijak. Bagi Indonesia hari ini, pesan global Harari dan kearifan lokal ini bertemu pada satu titik: kemanusiaan membutuhkan ruang hening.

Implementasi Konkret Ruang Hening

Ruang hening bukan berarti menolak teknologi atau menarik diri dari dunia. Sebaliknya, ia adalah upaya sadar untuk menempatkan teknologi pada tempatnya. Secara konkret, ruang hening dapat diwujudkan melalui kebiasaan pribadi seperti jeda gawai, doa, meditasi, atau refleksi harian.

Di keluarga, ia hadir dalam percakapan tanpa layar. Di sekolah, melalui jurnal reflektif dan pendidikan karakter. Di komunitas dan rumah ibadat, melalui doa, kontemplasi, dan dialog yang mendalam. AI akan terus berkembang, dan algoritma akan semakin canggih, tanpa ada jalan kembali ke dunia pra-digital.

Namun, masa depan manusia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kemampuan manusia merawat kesadarannya sendiri. Harari mengingatkan bahaya globalnya; Ki Hadjar, Cak Nur, Magnis-Suseno, dan Mangunwijaya memberi fondasi lokal dan moralnya. Di era AI, mungkin yang paling revolusioner bukanlah menjadi semakin cepat dan efisien, melainkan berani berhenti sejenak, hening, dan bertanya: siapakah aku, untuk siapa aku hidup, dan kemanusiaan seperti apa yang ingin kita rawat bersama?

Informasi lengkap mengenai pentingnya ruang hening di era digital ini disampaikan melalui berbagai pemikiran filosofis dan kearifan lokal yang relevan dengan kondisi saat ini.