Islami

Militer AS Siapkan Skenario Serangan ke Iran Selama Berminggu-minggu atas Instruksi Donald Trump

Advertisement

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mematangkan skenario operasi militer jangka panjang terhadap Iran yang diprediksi akan berlangsung selama berminggu-minggu. Langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan jika Presiden Donald Trump memberikan perintah penyerangan di tengah tensi diplomatik yang kian memanas.

Potensi Eskalasi dan Target Operasi Militer

Dua pejabat AS yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa perencanaan militer kali ini memiliki risiko yang sangat tinggi. Operasi ini disebut jauh lebih kompleks dibandingkan operasi Midnight Hammer pada Juni tahun lalu, di mana saat itu pesawat pengebom siluman AS hanya melakukan serangan tunggal terhadap fasilitas nuklir Iran.

Dalam rencana kampanye militer mendatang, sasaran tidak lagi terbatas pada infrastruktur nuklir, melainkan mencakup fasilitas negara dan keamanan Iran secara luas. Namun, langkah ini membawa risiko besar karena Iran memiliki gudang rudal yang tangguh yang dapat memicu serangan balasan dan menyeret kawasan ke dalam perang terbuka.

“AS sepenuhnya memperkirakan Iran akan membalas, yang akan menyebabkan serangan balasan dari waktu ke waktu,” ungkap salah satu pejabat tersebut.

Upaya Diplomasi di Jenewa dan Posisi Gedung Putih

Di tengah persiapan militer, jalur diplomasi tetap diupayakan melalui utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Keduanya dijadwalkan mengadakan negosiasi dengan pihak Iran di Jenewa, Swiss, pada Selasa (18/2/2026) dengan bantuan mediator dari Oman.

Meskipun demikian, harapan akan hasil positif tampak dibayangi ketegangan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa meskipun Trump lebih memilih kesepakatan damai, hal tersebut tetap sangat sulit untuk diwujudkan dalam kondisi saat ini.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa Presiden Trump tetap mempertimbangkan segala kemungkinan. “Presiden Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Keputusan akhir diambil berdasarkan apa yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional kita,” tegas Kelly.

Advertisement

Penguatan Militer dan Isyarat Perubahan Rezim

Kementerian Pertahanan AS telah mengonfirmasi pengiriman kapal induk tambahan ke Timur Tengah, lengkap dengan ribuan tentara, jet tempur, dan kapal perusak rudal pemandu. Trump sendiri secara terbuka melontarkan kemungkinan adanya perubahan pemerintahan di Iran saat berbicara di Fort Bragg, North Carolina.

“Tampaknya itu (perubahan rezim) akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” ujar Trump. Ia juga menyatakan rasa frustrasinya terhadap upaya diplomasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa hasil yang signifikan bagi kepentingan Amerika Serikat.

Tanggapan Oposisi Iran dan Sikap Israel

Tokoh oposisi Iran, Reza Pahlavi, justru mendesak Washington untuk tidak terlalu lama terjebak dalam negosiasi. Ia menilai serangan militer dapat mempercepat jatuhnya pemerintahan di Teheran. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menekankan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup elemen vital bagi keamanan Israel.

Hingga saat ini, Iran menyatakan kesiapan untuk mendiskusikan pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Namun, Teheran tetap bersikap tegas menolak untuk merundingkan masalah program pengembangan rudal mereka.

Informasi lengkap mengenai perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah ini dihimpun berdasarkan pernyataan resmi dan laporan narasumber otoritas terkait yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement