Islami

Obama Buka Suara Soal Video Kera Unggahan Trump, Singgung Etika dan Pertunjukan Badut Media Sosial

Advertisement

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait unggahan video kontroversial Presiden Donald Trump di platform Truth Social yang menampilkan dirinya dan Michelle Obama sebagai kera. Dalam sebuah wawancara terbaru, Obama menyoroti merosotnya standar kesopanan dan tata krama dalam ruang publik yang melibatkan pemimpin negara tersebut.

Kritik Obama Terhadap Hilangnya Rasa Malu

Komentar Obama muncul dalam wawancara berdurasi 47 menit bersama komentator politik Brian Tyler Cohen yang dipublikasikan pada Sabtu (14/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Obama merespons pertanyaan mengenai berbagai bentuk kekejaman dalam wacana publik yang kerap dilontarkan oleh Trump dan para sekutunya.

“Pertama-tama, saya pikir penting untuk menyadari bahwa mayoritas rakyat Amerika menganggap perilaku ini sangat meresahkan,” ujar Obama. Ia menilai bahwa tindakan semacam itu sengaja dilakukan untuk menarik perhatian dan menjadi pengalih perhatian dari isu-isu yang lebih substansial.

Obama juga menekankan adanya pergeseran nilai di kalangan pendukung Trump. Ia menyebut fenomena ini sebagai sebuah pertunjukan yang tidak lagi mengindahkan kehormatan terhadap jabatan publik.

“Ada semacam pertunjukan badut yang terjadi di media sosial dan di televisi. Yang benar adalah tampaknya tidak ada rasa malu tentang hal ini di antara orang-orang yang dulu merasa bahwa Anda harus memiliki semacam tata krama dan rasa kepatutan,” tambah Obama.

Kronologi Unggahan Video dan Dalih Gedung Putih

Video yang memicu kecaman tersebut diunggah pada pekan pertama Februari 2026. Konten tersebut menampilkan wajah Barack dan Michelle Obama yang ditempelkan pada tubuh kera dengan iringan lagu “The Lion Sleeps Tonight” sebagai latar belakang.

Awalnya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membela unggahan tersebut dengan mengeklaim bahwa konten itu hanyalah meme internet biasa. Ia bahkan meminta publik untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai “kemarahan palsu.”

Advertisement

Namun, seiring dengan meningkatnya tekanan publik, unggahan tersebut akhirnya dihapus. Seorang pejabat Gedung Putih memberikan keterangan kepada media bahwa seorang staf telah secara keliru membuat unggahan tersebut tanpa melalui prosedur peninjauan yang semestinya.

Sikap Keras Trump dan Kecaman Internal Republik

Meski menuai polemik luas, Presiden Donald Trump secara tegas menolak untuk meminta maaf. Dalam keterangannya kepada wartawan pada Jumat (6/2/2026), Trump menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia juga mengonfirmasi tidak memberikan sanksi atau memecat staf yang disebut bertanggung jawab atas unggahan tersebut.

Kritik tidak hanya datang dari kubu lawan, tetapi juga dari internal Partai Republik. Beberapa tokoh kunci partai menyatakan keberatan mereka secara terbuka melalui media sosial:

  • Senator Tim Scott: Mendesak penghapusan video dan menyebutnya sebagai konten paling rasis yang pernah dilihatnya dari lingkungan Gedung Putih.
  • Senator Katie Britt: Menilai konten tersebut tidak mencerminkan jati diri bangsa Amerika dan seharusnya tidak pernah dipublikasikan.

Laporan internal menyebutkan bahwa Trump merasa geram terhadap Scott dan Britt karena telah melontarkan kritik terbuka terhadap dirinya. Informasi lengkap mengenai perkembangan isu ini merujuk pada hasil wawancara resmi Barack Obama dan pernyataan pers yang dirilis oleh para anggota Senat Amerika Serikat.

Advertisement