Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa dilaporkan menjadi target lima kali percobaan pembunuhan oleh kelompok ISIS sepanjang tahun lalu. Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Rabu (11/2/2026), serangan tersebut juga menyasar sejumlah pejabat tinggi negara lainnya di tengah situasi keamanan yang belum stabil.
Detail Upaya Pembunuhan dan Target Pejabat
Selain Presiden Al Sharaa, laporan PBB mengonfirmasi bahwa Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Hasan Khattab dan Menteri Luar Negeri Asaad Al Shibani turut menjadi sasaran. Upaya pembunuhan terhadap presiden terdeteksi terjadi di dua wilayah rawan, yakni Aleppo di bagian utara dan Daraa di wilayah selatan.
Kelompok Saraya Ansar Al Sunnah, yang diidentifikasi sebagai front dari ISIS, disebut sebagai aktor utama di balik rangkaian serangan tersebut. PBB menyatakan bahwa ISIS secara aktif memanfaatkan kekosongan keamanan dan ketidakpastian politik yang masih menyelimuti Suriah pasca-transisi kekuasaan.
Kekuatan ISIS dan Ancaman Keamanan Nasional
Meskipun metode spesifik serangan tidak dirinci, pakar kontra-terorisme PBB menegaskan bahwa ancaman kelompok ekstremis ini tetap nyata. Saat ini, ISIS diyakini masih memiliki sekitar 3.000 anggota aktif yang tersebar di Irak dan Suriah, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Suriah.
Kelompok ini dilaporkan terus melancarkan serangan sporadis, terutama yang menargetkan pasukan keamanan di wilayah utara dan timur laut. Situasi ini mendorong pemerintahan Al Sharaa untuk memperkuat sistem keamanan nasional guna mengantisipasi ancaman lanjutan dari kelompok radikal tersebut.
Pengambilalihan Pangkalan Militer Al Tanf
Di tengah eskalasi ancaman, Pemerintah Suriah berhasil mengambil alih kendali penuh atas pangkalan militer Al Tanf di wilayah timur, dekat perbatasan Yordania dan Irak. Pangkalan strategis ini sebelumnya digunakan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) selama bertahun-tahun untuk operasi kontra-ISIS.
Dua pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi penyerahan fasilitas tersebut kepada pihak Suriah melalui laporan Reuters. Al Tanf memiliki nilai strategis tinggi karena lokasinya yang krusial dalam memantau pergerakan kelompok militan. Langkah ini menjadi bagian dari konsolidasi kekuasaan Al Sharaa setelah jatuhnya rezim Bashar Al Assad pada Desember 2024.
Konsolidasi Pemerintahan Ahmed Al Sharaa
Sejak memegang tampuk kepemimpinan, Ahmed Al Sharaa terus memperluas kontrol wilayahnya, termasuk merebut kembali wilayah timur laut setelah bentrokan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Pada November 2025, pemerintahannya juga secara resmi bergabung dalam koalisi internasional untuk memerangi ISIS.
Al Sharaa, yang sebelumnya memimpin faksi Hayat Tahrir Al Sham, kini fokus pada stabilisasi negara melalui penguatan sistem keamanan nasional. Informasi lengkap mengenai isu keamanan ini disampaikan melalui laporan resmi Kantor Kontra-Terorisme PBB yang dirilis pada Februari 2026.
