Berita

Pemilu Sela Jepang 8 Februari 2026: PM Sanae Takaichi Umumkan Percepatan, Koalisi LDP-Ishin Diprediksi Raih Mayoritas

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara mengejutkan mengumumkan pemilihan umum mendadak yang akan diselenggarakan pada 8 Februari 2026. Keputusan ini diambil tak lama setelah pembubaran majelis rendah parlemen, sebuah langkah yang disebut Takaichi sebagai pertaruhan atas masa depannya sebagai perdana menteri. Ia menegaskan keinginan agar rakyat menentukan langsung kelayakan kepemimpinannya.

Menurut laporan Independent pada Jumat (30/1/2026), seruan pemilu ini dinilai sebagai upaya memanfaatkan tingkat kepuasan publik yang tinggi terhadap Takaichi. Tujuannya adalah untuk memperkuat posisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan koalisi barunya dengan Partai Inovasi Jepang (Ishin). Dengan mayoritas yang sangat tipis di parlemen, kemenangan besar diyakini bisa mengubah peta politik Jepang secara signifikan. Namun, analis juga mengingatkan risikonya, termasuk potensi melemahnya kekuatan moderat dan kritik publik jika langkah tersebut dianggap lebih mementingkan manuver politik ketimbang stabilitas ekonomi.

Partai Politik yang Bersaing dalam Pemilu Sela Jepang

Pemilihan di Jepang mempertemukan beragam kekuatan politik dengan agenda dan ideologi yang berbeda tajam. Berikut gambaran singkat partai-partai yang bertarung serta isu utama yang mereka perjuangkan:

  • Partai Demokrat Liberal (LDP): Partai penguasa sejak lama ini mengusung stabilitas politik, hubungan pro-AS, dan kebijakan konservatif. Di bawah Sanae Takaichi, LDP mencoba memulihkan kepercayaan publik lewat bantuan ekonomi, termasuk wacana pembebasan sementara pajak konsumsi bahan pangan.
  • Partai Inovasi Jepang (Ishin): Partai kanan yang memposisikan diri sebagai kekuatan reformis anti-politik lama Tokyo. Ishin mendorong agenda konservatif keras seperti penguatan militer, reaktor nuklir aktif kembali, dan suksesi kekaisaran khusus laki-laki.
  • Aliansi Reformasi Sentris: Koalisi baru lintas partai yang menawarkan alternatif moderat terhadap pemerintahan Takaichi. Fokus utamanya keringanan biaya hidup, pajak konsumsi nol untuk makanan, reformasi pendanaan politik, serta perlindungan kelompok berpenghasilan rendah–menengah.
  • Partai Demokrat untuk Rakyat: Partai tengah-kanan yang menempatkan diri di antara LDP dan oposisi kiri. Mengusung pendekatan berbasis kebijakan, partai ini menekankan prioritas pada ekonomi rakyat dan stabilitas kehidupan sehari-hari ketimbang manuver politik.
  • Partai Komunis Jepang (JCP): Partai kiri yang konsisten memperjuangkan kesetaraan ekonomi, negara kesejahteraan, pasifisme, dan penolakan terhadap militerisasi serta energi nuklir. JCP juga mendorong Jepang agar tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat.
  • Sanseito: Partai populis sayap kanan dengan slogan “Jepang Pertama”. Mengusung nasionalisme kuat, pengetatan imigrasi, kebijakan pertahanan keras, serta pesan anti-elite yang agresif, terutama melalui media sosial untuk menarik pemilih muda.
  • Partai Konservatif Jepang: Partai oposisi kanan yang lahir sebagai reaksi atas kebijakan inklusivitas LGBT. Fokus pada perlindungan budaya tradisional Jepang dan pandangan nasionalis, termasuk sikap kontroversial terhadap sejarah perang Jepang.
  • Reiwa Shinsengumi: Partai kiri progresif anti-kemapanan yang menitikberatkan keadilan sosial. Agenda utamanya meliputi penghapusan pajak konsumsi, penolakan nuklir, pendapatan dasar, kenaikan upah, serta perlindungan kelompok rentan dan penyandang disabilitas.

Jumlah Kandidat dan Proyeksi Hasil

Pemilihan majelis rendah kali ini diikuti lebih dari 1.200 kandidat yang memperebutkan 465 kursi parlemen. Dari jumlah tersebut, 289 kursi diperebutkan melalui daerah pemilihan langsung. Sementara 176 kursi dialokasikan lewat sistem perwakilan proporsional yang memungkinkan pemilih memberikan suara terpisah untuk partai di tingkat regional.

Partai Demokrat Liberal (LDP) tercatat mengusung kandidat terbanyak, disusul Aliansi Reformasi Sentris, Partai Inovasi Jepang (Ishin), dan Partai Demokrat untuk Rakyat.

Hasil jajak pendapat terbaru Kyodo News, Minggu (1/2/2026), menunjukkan koalisi yang dipimpin Perdana Menteri Sanae Takaichi berpeluang mengamankan mayoritas di majelis rendah, dengan proyeksi perolehan 233 kursi atau lebih. Capaian itu dinilai akan memperkuat mandat politik Takaichi untuk melanjutkan agenda fiskal dan kebijakan utamanya.

“Singkatnya, jika Takaichi menang, pasar mungkin akan menjadi satu-satunya rem yang tersisa untuk menghentikan pemerintahannya dari melakukan tindakan yang gegabah,” ujar Profesor Margarita Estevez-Abe.

Informasi lengkap mengenai pemilu sela Jepang ini disampaikan melalui laporan media internasional dan jajak pendapat resmi yang dirilis pada akhir Januari hingga awal Februari 2026.