Finansial

Pengusaha Logistik Keluhkan Penurunan Layanan Pelabuhan, Pelindo Pastikan Operasional Sesuai Rencana

Advertisement

Pelaku usaha logistik dan pemilik kapal menyampaikan keluhan terkait penurunan kualitas layanan bongkar muat di sejumlah pelabuhan di Indonesia. Masalah produktivitas alat, keterbatasan fasilitas, hingga pendangkalan alur pelabuhan dinilai menjadi pemicu utama meningkatnya antrean kapal serta membengkaknya biaya operasional.

Keluhan Penurunan Kinerja di Pelabuhan Domestik

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, mengungkapkan bahwa keluhan ini muncul hampir di seluruh pelabuhan, terutama pada jalur domestik. Menurutnya, keterbatasan jumlah dan kemampuan alat bongkar muat telah menyebabkan antrean kapal yang memanjang.

Kondisi ini berdampak langsung pada jadwal distribusi barang yang tidak sesuai dengan perencanaan logistik. Berdasarkan laporan anggota ALFI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, keterlambatan pengiriman kerap terjadi baik saat keberangkatan maupun kedatangan akibat molornya jadwal sandar.

“Pemerintah semestinya memprioritaskan peningkatan layanan pelabuhan-pelabuhan domestik ini, sehingga proses pengiriman barang menjadi efisien dan konsumen tidak terpapar biaya yang kian mahal,” ujar Trismawan dalam keterangan resminya.

Dampak Signifikan di Tanjung Perak, Belawan, hingga Merauke

Ketua ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menyoroti penurunan produktivitas di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ia mencatat realisasi bongkar muat di Terminal Peti Kemas Nilam dan Mirah saat ini hanya mencapai 10 kontainer per jam, jauh dari kapasitas ideal 30 hingga 40 kontainer per jam.

Di Sumatera Utara, Ketua ALFI Surianto Butong melaporkan adanya pendangkalan alur di Pelabuhan Belawan yang membatasi kapasitas kapal. Kapal yang sebelumnya mampu mengangkut hingga 1.000 TEUs kini hanya bisa dilayani oleh kapal berkapasitas 200 hingga 300 TEUs akibat pendangkalan tersebut.

Advertisement

Sementara itu, di Papua Selatan, Ketua DPC ALFI Merauke, Abi Bakri Alhamid, menyebut waktu tunggu kapal bisa mencapai 10 hingga 15 hari. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas depo peti kemas dan penggunaan sistem bongkar muat lama yang memperlambat penanganan barang secara keseluruhan.

Tanggapan INSA dan Penjelasan Resmi Pelindo

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto, menilai kendala di lapangan merupakan dinamika yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk cuaca ekstrem. Ia menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) secara berkelanjutan untuk layanan optimal.

Menanggapi hal tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menegaskan bahwa layanan operasional di sejumlah terminal peti kemas tetap berjalan sesuai perencanaan. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, membantah adanya antrean kapal hingga enam hari di Pelabuhan Tanjung Perak.

Sebagai langkah perbaikan, Pelindo berencana menambah sejumlah fasilitas pada tahun 2026, antara lain:

  • Empat unit quay container crane (QCC) untuk TPS Surabaya.
  • 14 unit rubber tyred gantry (RTG) untuk TPS Surabaya.
  • Dua unit QCC untuk TPK Berlian yang dijadwalkan tiba pada pertengahan 2026.

Informasi mengenai perkembangan layanan dan pembaruan fasilitas pelabuhan ini disampaikan melalui keterangan resmi para pemangku kepentingan industri logistik nasional yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement