Pemerintah Oman berhasil memfasilitasi pertemuan krusial antara utusan Amerika Serikat dan Iran di Muscat pada 6 Februari 2026. Pertemuan ini menjadi langkah awal penjajakan Grand Bargain di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump guna meredam ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Meskipun delegasi kedua negara enggan berada dalam satu ruangan, pesan-pesan diplomatik disampaikan melalui perantara Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi. Delegasi Amerika Serikat dilaporkan terdiri dari Penasihat Senior Keamanan Nasional Steve Witkoff, Jared Kushner, dan Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, sementara pihak Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Kerangka Awal Kesepakatan De-eskalasi
Pertemuan di Muscat menghasilkan kerangka awal yang disebut sebagai kesepakatan de-eskalasi. Beberapa poin utama yang mulai disepakati antara lain:
- Pemulihan sebagian mekanisme pengawasan nuklir oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) di situs-situs sensitif Iran.
- Komitmen Teheran untuk membekukan pengayaan uranium di atas level 60 persen.
- Pembukaan jalur bantuan kemanusiaan oleh Washington untuk akses aset Iran yang dibekukan guna keperluan pangan dan obat-obatan.
Langkah ini dipandang sebagai kemenangan taktis bagi Teheran yang tengah menghadapi krisis ekonomi domestik dan inflasi tinggi. Namun, Iran tetap teguh mempertahankan program rudal balistik dan dukungan terhadap jaringan Axis of Resistance sebagai instrumen kedaulatan dan pertahanan regional mereka.
Intervensi Israel dan Strategi Dua Jalur Trump
Di tengah proses diplomasi yang berjalan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Gedung Putih pada Rabu, 11 Februari 2026. Netanyahu membawa draf tuntutan maksimal atau Zero Tolerance, mendesak Trump agar tidak memberikan ruang bagi Iran untuk memperkuat posisi militernya.
Israel meminta Amerika Serikat memasukkan pembongkaran total infrastruktur rudal jarak jauh Iran dalam perjanjian dan tetap mempertahankan opsi aksi militer yang kredibel. Menanggapi hal tersebut, Donald Trump menerapkan strategi dua jalur: jalur diplomatik transaksional di Muscat dan tekanan militer nyata melalui rencana pengiriman kapal induk kedua ke wilayah Teluk.
Strategi ini dirancang untuk memaksa Iran memberikan konsesi lebih besar. Masa depan stabilitas kawasan kini bergantung pada kemampuan kedua belah pihak dalam menavigasi tekanan internal dan eksternal yang semakin intensif. Informasi mengenai perkembangan diplomasi ini dihimpun dari pernyataan resmi dan laporan strategis terkait situasi di Timur Tengah.
