Finansial

Pertamina Patra Niaga Pastikan Stok BBM Krayan Aman Setelah Insiden Pesawat Kargo di Nunukan

Advertisement

Pertamina Patra Niaga memastikan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tetap berjalan normal pasca-kecelakaan pesawat kargo Pelita Air di wilayah Pa’bettung, Krayan Timur. Perusahaan telah menyiapkan armada pengganti guna menjaga stabilitas pasokan energi di wilayah perbatasan tersebut.

Mitigasi Distribusi dan Armada Pengganti

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan operator penerbangan dan mitra di lapangan. Langkah ini diambil untuk memonitor agar distribusi BBM ke wilayah terdampak tetap terlayani tanpa hambatan.

“Untuk menjaga kestabilan pasokan, Pertamina Patra Niaga terus berkoordinasi untuk menyiapkan armada pengganti dan saat ini sudah mendapatkan kepastian armada pengganti dari operator penerbangan,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis pada Jumat (20/2/2026).

Selain menyiapkan armada baru, Pertamina juga telah menyusun skema distribusi alternatif sebagai langkah mitigasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat di wilayah Krayan dan sekitarnya tetap terpenuhi di tengah situasi darurat.

Kronologi Kecelakaan Pesawat Pelita Air

Insiden ini melibatkan pesawat kargo jenis Air Tractor AT-802 dengan nomor registrasi PK-PAA yang dioperasikan oleh Pelita Air Service. Pesawat tersebut bertugas mengangkut BBM dalam rangka mendukung program BBM Satu Harga ke wilayah terpencil di perbatasan Indonesia.

Berdasarkan data teknis, pesawat terbang dari Tarakan menuju Long Bawan dengan membawa muatan sekitar 4.000 liter Pertalite dan tiba pukul 11.00 Wita. Setelah proses bongkar muatan selesai, pesawat lepas landas kembali menuju Tarakan pada pukul 12.10 Wita. Namun, sistem menerima sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) pada pukul 12.20 Wita.

Advertisement

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pilot sempat berkomunikasi dengan petugas Air Traffic Control (ATC) Tarakan mengenai estimasi posisi saat melintasi wilayah Malinau sebelum akhirnya dilaporkan mengalami kecelakaan.

Kondisi Awak dan Kelaikan Pesawat

Kecelakaan tersebut menyebabkan pilot tunggal, Capt. Hendrick Lodewyck Adam (54), meninggal dunia. Almarhum diketahui merupakan pilot berpengalaman yang telah bergabung dengan PT Pelita Air Service sejak Juli 2021 dengan catatan lebih dari 8.000 jam terbang.

Corporate Secretary Pelita Air, Patria Rhamadonna, menegaskan bahwa pesawat produksi tahun 2013 tersebut dalam kondisi laik terbang. “Pesawat telah menjalani perawatan rutin terakhir pada 15 Februari 2026. Perusahaan memastikan akan memenuhi seluruh hak dan santunan kepada keluarga almarhum,” ungkap Patria.

Informasi mengenai penanganan insiden dan kelanjutan distribusi energi di Kalimantan Utara disampaikan melalui pernyataan resmi Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Perhubungan pada 20 Februari 2026.

Advertisement