Berita

Pria China Ungkap Cara Ekstraksi Emas dari Limbah SIM Card, Hasilkan Rp 483 Juta dan Picu Kontroversi

Sebuah video yang menampilkan proses ekstraksi emas dari limbah SIM card mendadak viral di media sosial China. Aksi ini menampilkan seorang pria bernama samaran Qiao, yang dijuluki warganet sebagai “sang alkemis” karena kemampuannya mengolah limbah elektronik menjadi logam mulia bernilai tinggi. Qiao, seorang pengolah limbah logam profesional dari Huizhou, Provinsi Guangdong, China tenggara, berhasil mengekstraksi 191 gram emas murni senilai hampir 200.000 yuan atau sekitar Rp 483 juta.

Aksi “Sang Alkemis” yang Viral

Pada 20 Januari 2026, Qiao mengunggah video yang mendokumentasikan proses kerjanya. Unggahan tersebut dengan cepat meraih lebih dari lima juta penayangan, memicu rasa takjub publik sekaligus lonjakan pembelian SIM card bekas di berbagai platform daring, sebagaimana diberitakan NDTV pada Senin (2/12/2026).

Dalam video tersebut, Qiao terlihat menuangkan SIM card bekas ke dalam tong berisi bahan kimia tertentu. Limbah itu kemudian melalui serangkaian proses yang mencakup korosi, perpindahan zat, hingga pemanasan bersuhu sangat tinggi. Dari rangkaian reaksi tersebut, muncul lumpur berwarna keemasan yang kemudian disaring dan dipanaskan kembali hingga akhirnya menghasilkan emas murni.

Potensi Emas dalam Limbah Elektronik

Qiao menjelaskan bahwa emas yang dihasilkan tidak semata-mata berasal dari SIM card. Ia mengungkapkan kepada Xiaoxiang Morning Post bahwa proses itu melibatkan hampir dua ton limbah elektronik campuran dari industri telekomunikasi. “Untuk memastikan stabilitas dan ketahanan terhadap korosi, bagian-bagian penting dari SIM card dilapisi emas,” katanya.

Meski hasil akhirnya terbilang fantastis, kandungan emas dalam SIM card sebenarnya sangat kecil. Sebagaimana dilaporkan South China Morning Post pada Minggu (1/12/2026), satu SIM card standar umumnya hanya mengandung kurang dari 0,001 gram emas. Namun, bila dikumpulkan dalam jumlah besar dan diproses dengan metode yang tepat, logam berharga itu tetap dapat diekstraksi.

Selain SIM card, Qiao menyebut bahwa limbah lain seperti chip kartu bank dan komponen kontak pada perangkat komunikasi juga memiliki potensi serupa untuk didaur ulang. Inilah yang membuat keahliannya dipandang sebagai perpaduan antara sains, ketekunan, dan pengalaman industri.

Dampak Viral dan Lonjakan Pasar Barang Bekas

Julukan “Sang Alkemis” pun melekat pada Qiao di dunia maya. Sejumlah warganet mengungkapkan kekaguman sekaligus penyesalan. Salah satu komentar berbunyi, “Ketika saya menjalankan warnet, saya membuang banyak limbah chip komputer. Sekarang saya menyesal kehilangan semua emas itu.” Komentar lain menegaskan bahwa proses tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan, “Qiao itu profesional. Alkimia memiliki ambang batas kimia yang tinggi.”

Dampak viral video tersebut terasa nyata di pasar barang bekas. Penjualan SIM card lama melonjak drastis. Salah satu penjual bahkan menawarkan paket SIM card yang diklaim dapat digunakan untuk “alkimia”. Tautan penjualan tersebut dilihat lebih dari 10.000 kali dan mencatat lebih dari 100 pesanan. Toko lain menjual peralatan pemurnian emas lengkap dengan video panduan seharga 485 yuan (sekitar Rp 1,1 juta), dan hampir 2.000 unit terjual.

Peringatan Bahaya dan Jerat Hukum

Di tengah euforia publik, Qiao menegaskan bahwa videonya bukan ajakan untuk meniru praktik tersebut. Ia menekankan bahwa aktivitasnya dilakukan secara legal dan berizin. “Saya secara legal mengolah limbah elektronik tertentu dengan sertifikasi, dan tujuan saya adalah untuk berbagi keahlian saya,” katanya.

Qiao juga mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba proses tersebut secara mandiri. Menurutnya, risiko keselamatan sangat besar, terutama karena penggunaan bahan kimia berbahaya dan suhu ekstrem. Peringatan serupa disampaikan sumber internal industri kepada media Xinwenfang. Ia menjelaskan bahwa metode ekstraksi emas yang paling umum adalah dengan merendam bahan dalam aqua regia, campuran asam pekat yang sangat korosif dan menghasilkan asap beracun. “Proses ini sangat sensitif terhadap suhu, waktu, dan kontrol pH. Kesalahan kecil dapat melepaskan gas beracun atau memicu reaksi korosif yang kuat,” jelasnya.

Secara regulasi, pemurnian dan peredaran emas di China berada di bawah pengawasan ketat. Pemurnian logam mulia dari limbah memerlukan sertifikasi khusus, sementara SIM card lama diklasifikasikan sebagai limbah berbahaya. Pelanggaran dapat berujung denda hingga 500.000 yuan (sekitar Rp 1,2 miliar) dan hukuman penjara karena pencemaran lingkungan.

Preseden hukum juga pernah terjadi. Pada 2021, tujuh orang di Provinsi Jiangxi dijatuhi hukuman hingga 3,5 tahun penjara serta diwajibkan membayar denda total 930.000 yuan (sekitar Rp 2,2 miliar) akibat pemurnian timbal ilegal dari baterai bekas. Seorang pengacara mengingatkan bahwa penjualan peralatan “alkimia” secara daring berpotensi melanggar hukum karena menyangkut distribusi bahan kimia berbahaya. Dalam konteks ini, baik penjual maupun pembeli dapat dimintai pertanggungjawaban hukum jika terbukti melanggar ketentuan yang berlaku.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan Qiao dan laporan media NDTV serta South China Morning Post yang dirilis pada awal Desember 2026.