Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada awal perdagangan pekan ini, Senin (16/2/2026). Mata uang Garuda terapresiasi ke level Rp 16.823 per dollar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg pukul 11.00 WIB, rupiah mencatatkan kenaikan 13 poin atau sebesar 0,08 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di angka Rp 16.836 per dollar AS.
Analisis Global dan Sentimen Pasar
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah terjadi seiring dengan pelemahan the greenback. Kondisi ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih rendah daripada ekspektasi pasar sebelumnya.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dollar AS yang melemah setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan,” ujar Lukman.
Meski demikian, Lukman memprediksi ruang penguatan rupiah masih akan terbatas. Hal ini disebabkan oleh adanya sentimen domestik yang cenderung negatif serta pelemahan dollar AS yang dinilai tidak terlalu signifikan bagi pasar global.
Perbandingan Mata Uang Kawasan Asia
Pergerakan rupiah terpantau selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang mayoritas berada di zona hijau. Berikut adalah rincian performa mata uang Asia terhadap dollar AS pada pagi ini:
| Mata Uang | Persentase Perubahan |
| Dollar Taiwan | +0,26% |
| Peso Filipina | +0,19% |
| Ringgit Malaysia | +0,11% |
| Baht Thailand | +0,11% |
| Won Korea Selatan | +0,10% |
| Dollar Singapura | +0,03% |
| Dollar Hong Kong | +0,02% |
| Yen Jepang | -0,22% |
Berbeda dengan tren regional, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang mengalami pelemahan terhadap dollar AS dengan koreksi sebesar 0,22 persen.
Proyeksi Nilai Tukar Hari Ini
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan internal, nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif sepanjang hari ini. Lukman Leong memperkirakan rupiah akan berada dalam rentang kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.900 per dollar AS pada perdagangan Senin ini.
Informasi mengenai pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar valuta asing ini merujuk pada data Bloomberg serta pernyataan analis ekonomi yang dirilis pada 16 Februari 2026.
