Berita

Rupiah Kembali Menguat Tipis, Profesor Ekonomi Ungkap Intervensi BI hingga Geopolitik Jadi Penopang

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penguatan pada Rabu, 28 Januari 2026, setelah sempat tertekan. Mata uang Indonesia ini merangkak tipis 0,23 persen ke level Rp 16.719 per dolar AS pada pukul 11.02 WIB, posisi yang lebih kuat dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di angka Rp 16.768 per dolar AS.

Intervensi Bank Indonesia yang Masif

Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa intervensi Bank Indonesia (BI) memegang peran krusial dalam penguatan rupiah. Menurut Anton, BI telah melakukan intervensi besar-besaran di berbagai pasar sepanjang bulan ini.

Intervensi tersebut mencakup pasar spot, domestic non deliverable forward (DNDF), dan pasar obligasi. Anton menilai langkah ini menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar, yang pada gilirannya memberikan kepercayaan diri bagi para pelaku pasar.

Kebijakan Suku Bunga Acuan yang Konsisten

Faktor pendorong penguatan rupiah berikutnya adalah kebijakan suku bunga acuan BI. Pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 21 Januari 2026, BI memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 4,75 persen.

Anton menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak menurunkan suku bunga ini, meskipun terasa kurang menguntungkan bagi sektor riil karena tingkat bunga yang masih tinggi, justru membantu menahan aliran modal keluar. Kebijakan ini dinilai esensial untuk menjaga stabilitas rupiah.

Pelemahan Indeks Dolar AS di Pasar Global

Selain dorongan domestik, kondisi eksternal turut berkontribusi pada penguatan rupiah, salah satunya adalah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat. Anton menyebutkan bahwa data ekonomi AS yang dirilis pada Januari 2026 tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, bahkan lebih buruk dari yang diperkirakan.

Kondisi ini menyebabkan dolar AS melemah di pasar global, yang berimbas pada penguatan mata uang di Asia, tidak hanya rupiah. Beberapa mata uang Asia yang juga menguat antara lain Ringgit Malaysia sebesar 0,76 persen, dolar Taiwan naik 0,49 persen, won Korea Selatan melonjak 0,36 persen, peso Filipina merangkak naik 0,35 persen, serta yuan China menguat tipis 0,08 persen.

Meredanya Sentimen Geopolitik Global

Sektor eksternal lain yang mendukung penguatan rupiah adalah meredanya sentimen geopolitik. Anton mengamati bahwa ketegangan geopolitik di berbagai negara mulai menurun, khususnya isu militer di Greenland yang mereda setelah Amerika Serikat dan Eropa menurunkan tensi.

Meredanya ketidakpastian global ini secara langsung mendorong penguatan mata uang, termasuk rupiah, karena menciptakan lingkungan investasi yang lebih stabil.

Informasi mengenai faktor-faktor penguatan rupiah ini disampaikan oleh Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., kepada Kompas.com pada Rabu, 28 Januari 2026.