Berita

Rupiah Melemah Lagi: Ekonom UGM Soroti Dampak Langsung Fluktuasi Mata Uang pada Daya Beli Masyarakat

Mata uang rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat (30/1/2026) pagi, setelah sempat menguat tipis beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Google Finance, nilai tukar rupiah menurun 0.012 persen, mencapai level Rp 16.786 terhadap dolar AS per pukul 10.54 WIB. Fluktuasi nilai tukar ini bukan sekadar angka di grafik, melainkan berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kehidupan dan daya beli masyarakat Indonesia.

Dampak Pelemahan Rupiah: Plus dan Minus

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah memiliki dampak positif dan negatif bagi perekonomian nasional. “Pelemahan rupiah sebenarnya ada manfaatnya,” ucap Eddy saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (30/1/2026).

Manfaat Pelemahan Rupiah

Menurut Eddy, sisi positif dari pelemahan nilai rupiah adalah barang-barang ekspor dari Indonesia menjadi lebih murah dan lebih kompetitif di pasar internasional. Hal ini dapat mendorong peningkatan volume ekspor.

Konsekuensi Negatif bagi Masyarakat

Namun, Eddy mengingatkan bahwa dalam konteks struktur ekonomi Indonesia saat ini, pelemahan rupiah juga membawa konsekuensi yang kurang menguntungkan, khususnya bagi masyarakat. “Sayangnya, untuk konteks Indonesia, pelemahan rupiah ada konsekuensi kurang menggembirakan yang memengaruhi daya beli rakyat jelata,” ulas Eddy.

Ia mencontohkan potensi inflasi akibat kenaikan harga minyak, mengingat impor minyak Indonesia lebih besar daripada ekspornya. Selain itu, kenaikan harga beberapa pangan utama seperti kedelai dan kebutuhan teknologi juga menjadi dampak langsung yang dirasakan masyarakat.

Dinamika Penguatan Rupiah Sebelumnya

Sebelumnya, mata uang nasional sempat menunjukkan tren penguatan dalam beberapa waktu terakhir. Eddy Junarsin menilai dampak positif dari penguatan rupiah yang relatif singkat tersebut belum dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Belum ada dampak karena baru sebentar atau hanya sementara,” tuturnya.

Pengaruh Kebijakan Luar Negeri AS

Terkait penguatan rupiah beberapa waktu lalu, Eddy menjelaskan bahwa hal itu cenderung disebabkan oleh melemahnya dolar AS akibat kebijakan luar negeri Amerika Serikat. “Kebijakan U.S. seperti tariffs, international politics, military (berdampak) sehingga tingkat kepercayaan kepada dolar sedikit tergerus,” terang Eddy.

Dinamika tersebut membuat dolar AS sempat tertekan di pasar global, yang pada akhirnya mendorong penguatan mata uang beberapa negara, termasuk rupiah. Eddy menambahkan, sudah lumrah jika negara yang mengenakan tarif terhadap negara lain ingin mata uangnya melemah. “Sebabnya sederhana, akibat tariffs, arus uang yang masuk ke dalam negeri meningkat dan dapat menyebabkan mata uangnya terlalu kuat sehingga competitiveness produk negara itu menurun,” sambungnya.

Oleh karena itu, jika mata uangnya dapat melemah, hal itu akan meningkatkan kembali daya saing produk-produk dari negara tersebut.

Potensi Penguatan Rupiah ke Depan

Meskipun hari ini menunjukkan tren pelemahan, mata uang rupiah terhadap dolar AS memiliki potensi untuk kembali menguat dengan dorongan faktor global. Salah satunya adalah kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

“Potensi menguatnya rupiah terhadap dollar terjadi karena kebijakan tariffs U.S. membuat U.S. ingin mata uangnya melemah agar produk-produk mereka dapat lebih kompetitif,” jelas Eddy.

Selain faktor global, beberapa variabel lain juga memengaruhi pergerakan nilai rupiah. “Rupiah juga dapat menguat jika kondisi politik, ekonomi, sosial semakin stabil dan kondusif,” sebutnya. Namun, dari sisi mikro, Eddy menilai tidak banyak yang bisa diubah oleh perusahaan-perusahaan Indonesia dalam waktu singkat, sehingga ruang gerak untuk memengaruhi pergerakan nilai rupiah dalam jangka pendek tergolong terbatas.

Peran Bank Sentral dalam Stabilitas Rupiah

Menurut Eddy, peran bank sentral dalam menstabilkan nilai rupiah juga sangat terbatas saat ini. “Tidak banyak yang bisa dilakukan (bank sentral untuk menaikkan nilai rupiah). Paling mengerahkan foreign exchange reserves untuk menstabilkan rupiah, tapi itu hanya bisa untuk skala yang normal,” tuturnya.

Foreign exchange reserves atau cadangan devisa digunakan untuk menjaga stabilitas gejolak rupiah. Namun, jika tekanan terhadap rupiah sangat dalam, penggunaan cadangan devisa berpotensi menghabiskan simpanan negara tanpa efek yang nyata.

Strategi Masyarakat Menghadapi Fluktuasi

Naik turunnya nilai rupiah terhadap dolar AS tentu memberikan dampak langsung bagi masyarakat Indonesia. Di tengah fluktuasi ini, Eddy Junarsin melihat banyak masyarakat yang mempertimbangkan untuk menabung atau berinvestasi pada instrumen safe-haven, seperti emas.

Emas sebagai Instrumen Safe-Haven

Meskipun harga emas terus mencatatkan rekor kenaikan, Eddy menilai emas masih sangat relevan sebagai instrumen investasi di tengah ketidakpastian geopolitik. Mengutip data Sahabat Pegadaian per 30 Januari 2024 pukul 11.30, emas merek Galeri24 menyentuh angka Rp 3.204.000, sementara merek UBS mencapai Rp 3.219.000.

“Saya kira belum ada pilihan yang lebih masuk akal di tengah ketidakpastian geopolitik. Investor akan mencari safe-haven instruments seperti emas,” tegasnya. Eddy juga menambahkan bahwa ketidakpercayaan pada fiat money juga akan mendongkrak popularitas cryptos.

Informasi lengkap mengenai dinamika fluktuasi rupiah dan dampaknya bagi perekonomian disampaikan melalui analisis Ekonom UGM Eddy Junarsin yang dirilis pada Jumat, 30 Januari 2026.