Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot, Rabu (18/2/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.24 WIB, mata uang Garuda terkoreksi 50 poin atau 0,34 persen ke level Rp 16.895 per dollar AS.
Kondisi Mata Uang Kawasan Asia
Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang terpantau tertekan terhadap dollar AS. Yen Jepang tercatat turun 0,16 persen, diikuti peso Filipina yang melemah 0,11 persen, yuan China terkoreksi 0,05 persen, serta dollar Singapura yang tertekan 0,1 persen.
Meski demikian, terdapat beberapa mata uang Asia yang masih mampu menguat tipis di tengah tekanan global:
| Mata Uang | Performa |
|---|---|
| Ringgit Malaysia | Apresiasi 0,23% |
| Baht Thailand | Menguat 0,08% |
| Won Korea Selatan | Naik 0,01% |
Pengaruh Sentimen Hawkish The Fed
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah akan terus bergerak melemah sepanjang hari ini. Kondisi ini dipicu oleh penguatan dollar AS setelah adanya pernyataan bernada hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed), Michael Barr dan Mary Daly.
Sikap tersebut mengindikasikan bahwa bank sentral AS masih membuka ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna memastikan inflasi terkendali. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS yang menguat oleh pernyataan hawkish dari pejabat-pejabat The Fed Barr dan Daly semalam,” ujar Lukman.
Faktor Domestik dan Prediksi Pergerakan
Di sisi domestik, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) bulan ini. Investor tengah mengantisipasi kemungkinan adanya nada yang lebih dovish dari bank sentral dalam pertemuan kebijakan tersebut.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang negatif dan penantian kepastian kebijakan domestik, pergerakan rupiah diprediksi berada dalam rentang Rp 16.800 hingga Rp 16.900 per dollar AS. Informasi mengenai perkembangan nilai tukar ini dihimpun berdasarkan data pasar spot dan pernyataan resmi analis pada Rabu (18/2/2026).
