Soroti Perang 1866, Liechtenstein Ungkap Kisah Tentara Berangkat 80 Pulang Jadi 81 Tanpa Korban
Liechtenstein, sebuah negara mikro di kawasan Alpen, mencatatkan sejarah militer yang tak lazim pada tahun 1866. Dalam konflik Perang Austria–Prusia, negara ini mengirimkan 80 tentaranya ke medan tugas dan secara mengejutkan, seluruh pasukan kembali ke tanah air dengan jumlah 81 orang, tanpa satu pun korban jiwa.
Peristiwa unik ini terjadi di tengah gejolak Perang Austria–Prusia atau Seven Weeks’ War yang turut menyeret negara-negara kecil anggota Konfederasi Jermanik. Saat itu, Liechtenstein memihak pada Kekaisaran Austria, yang merupakan rival utama Kerajaan Prusia.
Konteks Perang Austria-Prusia dan Peran Liechtenstein
Sebagai negara mikro dengan wilayah terbatas dan ekonomi yang masih berbasis pertanian, Liechtenstein tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Total kekuatan militernya pada masa itu hanya berjumlah 80 orang, yang merupakan jumlah maksimal yang dapat dikerahkan oleh negara tersebut.
Pasukan kecil ini tidak diterjunkan ke garis depan pertempuran besar. Tugas mereka lebih terfokus pada pengamanan wilayah strategis di sekitar Celah Brenner, sebuah kawasan pegunungan penting yang menjadi penghubung antara Austria dan Italia, yang kala itu bersekutu dengan Prusia.
Misi Pasukan di Celah Brenner
Beberapa tugas yang diemban oleh pasukan Liechtenstein meliputi patroli jalur pegunungan, pengawasan perlintasan, dukungan logistik, serta komunikasi bagi tentara Austria. Selama konflik berlangsung, pasukan ini tidak terlibat langsung dalam pertempuran besar.
Perang Austria–Prusia sendiri berakhir singkat dengan kemenangan Prusia, yang sekaligus melemahkan pengaruh Austria di Eropa. Namun, kejadian paling mencuri perhatian justru terjadi saat pasukan Liechtenstein kembali ke negaranya.
Misteri Penambahan Satu Tentara
Catatan sejarah menunjukkan bahwa 80 tentara yang diberangkatkan pulang dalam kondisi utuh, tanpa korban jiwa, luka, maupun desertir. Yang mengejutkan, jumlah mereka justru bertambah menjadi 81 orang.
Sejarawan mencatat, satu orang tambahan tersebut bergabung dalam perjalanan pulang. Ada dua versi yang beredar mengenai identitasnya. Versi pertama menyebutkan bahwa ia adalah seorang warga Italia yang bersimpati kepada pasukan Liechtenstein dan ikut kembali bersama mereka. Versi lain mengemukakan bahwa ia adalah perwira Austria yang selama perang berperan sebagai penghubung dan kemudian ikut kembali ke Liechtenstein.
Meskipun detail identitasnya tidak sepenuhnya disepakati, para sejarawan sepakat bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Liechtenstein tercatat sebagai satu-satunya negara yang pasukannya pulang dari perang dengan jumlah lebih banyak dibandingkan saat berangkat.
Dampak Jangka Panjang: Pembubaran Militer
Perang 1866 juga membawa dampak besar bagi kebijakan pertahanan Liechtenstein. Dua tahun setelah konflik berakhir, parlemen negara itu menggelar perdebatan internal mengenai relevansi dan biaya mempertahankan angkatan bersenjata.
Kesimpulan yang diambil cukup radikal. Pada tahun 1868, Liechtenstein resmi membubarkan militernya. Sejak saat itu, negara tersebut tidak lagi memiliki angkatan bersenjata, mengandalkan kepolisian internal untuk keamanan, serta menerapkan kebijakan netralitas permanen.
Keputusan itu terbukti efektif. Liechtenstein berhasil melewati berbagai konflik besar di Eropa, termasuk dua Perang Dunia, tanpa terlibat secara militer. Kini, Liechtenstein dikenal sebagai salah satu dari sedikit negara di dunia yang tidak memiliki tentara, bersama mikro-negara lain seperti Monako dan Vatikan.
Kisah “80 tentara yang pulang jadi 81” pun dikenang sebagai simbol pragmatisme negara kecil dalam menghadapi perang, bahwa kemenangan tidak selalu diukur dari jumlah pertempuran yang dimenangkan, melainkan dari pertempuran yang berhasil dihindari.
Kisah unik Liechtenstein dalam Perang Austria–Prusia 1866 ini diulas berdasarkan laporan dari media Brasil Click Petroleoe Gas (CPG) yang dirilis pada 16 Januari 2026.