Pudarnya pengaruh militer Perancis di Afrika Barat dan Tengah, yang dibarengi dengan terbatasnya pasokan senjata dari Rusia, menciptakan kevakuman besar di kawasan tersebut. Kondisi ini dimanfaatkan secara strategis oleh China untuk mengisi celah pasar persenjataan melalui penawaran teknologi hemat biaya dan sistem pembiayaan yang fleksibel.
Laporan dari jurnal China Military to Civilian pada Januari lalu menyebutkan bahwa China National Aero-Technology Import & Export Corporation tengah memperkuat reputasinya di Afrika. Langkah ekspansi ini mengikuti gelombang kudeta militer di wilayah Sahel sejak 2020, termasuk di Burkina Faso, Mali, dan Niger, yang memicu penarikan pasukan kontra-terorisme Perancis.
Faktor Pendorong Ekspansi Militer China
Mundurnya militer Perancis memberikan ruang bagi perdagangan militer China untuk berkembang pesat. Selain itu, kemampuan Rusia dalam mendukung pelanggan luar negeri saat ini terhambat oleh fokus sumber daya pada perang di Ukraina, sehingga membuka peluang bagi produk buatan Beijing untuk menggantikan persenjataan lama.
Senjata asal China dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena biaya yang relatif murah, kemudahan perawatan, serta kemampuan kustomisasi. Sistem layanan purna jual yang ditawarkan juga dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan spesifik negara-negara di benua Afrika dibandingkan produsen dari negara Barat.
Data Dominasi China di Afrika Barat
Berdasarkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), China telah menjadi pemasok senjata terbesar bagi negara-negara Afrika Barat pada periode 2020-2024. Peneliti Arms Transfers Programme SIPRI, Katarina Djokic, mencatat peningkatan signifikan dalam volume ekspor tersebut.
| Negara Pemasok | Pangsa Pasar (2020-2024) |
|---|---|
| China | 26% |
| Perancis | 14% |
| Rusia | 11% |
| Turki | 11% |
Djokic menjelaskan bahwa peningkatan penjualan ke Burkina Faso dan Mali berkaitan erat dengan konflik internal yang membuat negara-negara tersebut membutuhkan pasokan senjata lebih besar. China bahkan memperluas transfer senjata ke Senegal dan Ghana, meskipun kedua negara tersebut memiliki hubungan militer tradisional dengan Perancis.
Strategi Diplomasi dan Komitmen Jangka Panjang
Analis dari Royal United Services Institute (RUSI), Alessandro Arduino, menilai Beijing berhasil mengkapitalisasi mundurnya pengaruh Barat dengan menawarkan perangkat keras tanpa syarat politik. Harga yang kompetitif dan pembiayaan permisif menjadi daya tarik utama bagi pemerintah yang memiliki keterbatasan anggaran.
Strategi China di kawasan ini cenderung bersifat profil rendah, fokus pada transfer senjata, pelatihan, dan penguatan ikatan institusional. Komitmen ini dipertegas dalam Rencana Aksi Beijing pada Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) 2024-2027 yang menargetkan pelatihan bagi 6.500 personel militer.
Tantangan dan Persaingan Global
Meskipun posisi China menguat, peneliti senior Peace Research Institute Oslo, Ilaria Carrozza, mengingatkan adanya persaingan ketat dari ekspor pertahanan Turki, pengaruh Amerika Serikat, dan jaringan keamanan Rusia yang sudah mengakar. China juga memiliki keterbatasan karena enggan terlibat dalam dukungan militer kinetik atau pertempuran langsung.
David Shinn, profesor dari George Washington University, menyoroti bahwa keunggulan utama China adalah pengiriman yang cepat tanpa syarat politik. Namun, keengganan Beijing untuk terlibat dalam operasi tempur membatasi kemampuannya dalam memenuhi permintaan keamanan tertentu di wilayah konflik.
Informasi mengenai pergeseran peta kekuatan militer di Afrika ini dihimpun berdasarkan laporan South China Morning Post (SCMP) dan data resmi dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
