Pemerintah China secara resmi memberlakukan kebijakan tarif nol persen untuk hampir seluruh komoditas impor dari negara-negara Afrika. Langkah strategis ini dinilai bukan sekadar gestur diplomasi ekonomi biasa, melainkan upaya Beijing dalam mengunci hubungan produksi jangka panjang dan menciptakan skala ekonomi baru di tengah meningkatnya tren proteksionisme global.
Strategi Pembangunan di Tengah Proteksionisme
Kebijakan ini muncul sebagai respons terhadap dinamika ekonomi global yang kian tertutup. Saat negara-negara maju mulai memperketat standar perdagangan dan meningkatkan subsidi domestik, China justru membuka ruang pasar alternatif bagi negara berkembang. Pendekatan ini selaras dengan pemikiran Justin Yifu Lin dalam New Structural Economics, yang menekankan pentingnya peran negara aktif dalam memfasilitasi integrasi rantai nilai global.
Melalui akses pasar yang lebih luas, negara-negara Afrika diharapkan mendapatkan permintaan yang stabil untuk komoditas mereka. Sebaliknya, China memperoleh jaminan pasokan bahan baku serta ruang ekspansi bagi industri hilir mereka di kawasan tersebut.
Infrastruktur dan Kapasitas Material
Kritik mengenai ekspansi pengaruh China melalui proyek infrastruktur tetap ada, namun para ahli menyoroti dimensi pembangunan yang sering terabaikan. Pembangunan jalan, pelabuhan, dan jaringan listrik dipandang sebagai penyediaan kapasitas material yang krusial bagi proses industrialisasi di Afrika.
- Penyediaan energi untuk kawasan industri.
- Efisiensi logistik melalui jalur kereta api dan pelabuhan.
- Peningkatan output produsen lokal berkat jaminan akses pasar.
Tanpa kapasitas material tersebut, lompatan pendapatan di negara-negara berkembang sulit tercapai. Kebijakan tarif nol persen ini memperkuat sisi permintaan, sehingga infrastruktur yang telah dibangun tidak menjadi kapasitas yang menganggur.
Ketergantungan Timbal Balik dan Realitas Politik
Meskipun sering disebut sebagai jebakan ketergantungan, data menunjukkan adanya tren peningkatan ekspor manufaktur ringan dari Afrika ke China. Selain itu, ketergantungan ini bersifat timbal balik; China sangat membutuhkan mineral strategis dari Afrika untuk mendukung transisi energi dan industri teknologi tinggi mereka.
Namun, skema ini tetap memiliki prasyarat politik yang ketat. Fasilitas tarif nol persen hanya diberikan kepada negara-negara yang mengakui kedaulatan Beijing. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen ekonomi tetap digunakan sebagai alat diplomasi, sebuah praktik yang juga lazim dilakukan oleh kekuatan besar lainnya di dunia.
Perbandingan Pendekatan Global
Studi dari Deborah Brautigam dalam The Dragon’s Gift mengungkapkan bahwa komposisi pinjaman China di Afrika lebih beragam daripada narasi yang beredar selama ini. Di saat Amerika Serikat cenderung menaikkan hambatan dagang, Beijing justru menurunkan tarif, yang secara praktis mengarahkan arus barang menuju pasar yang lebih terbuka.
Informasi lengkap mengenai kebijakan perdagangan dan kerja sama ekonomi ini merujuk pada laporan strategis pembangunan eksternal yang dirilis melalui saluran resmi otoritas perdagangan terkait pada Februari 2026.
