Finansial

Sun Life Rilis Data Kesiapan Pensiun 2026: Penggunaan AI Meningkat Namun Nasihat Ahli Tetap Krusial

Advertisement

Riset terbaru Sun Life di Asia mengungkapkan adanya kesenjangan pensiun yang semakin nyata di Indonesia pada awal tahun 2026. Fenomena ini menunjukkan dua realitas yang kontras, di mana sebagian individu tetap bekerja di masa tua sebagai pilihan hidup, sementara sebagian lainnya terpaksa melakukannya demi memenuhi kebutuhan finansial yang mendesak.

Dua Realitas Masa Pensiun: Antara Aspirasi dan Tuntutan Ekonomi

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menjelaskan bahwa kesiapan finansial menjadi faktor penentu utama dalam menghadapi masa pensiun. Berdasarkan riset tersebut, pekerja terbagi menjadi dua kategori utama, yakni Gold Star Planners yang telah siap secara finansial dan Stalled Starters yang terpaksa menunda pensiun karena keterbatasan dana.

Bagi kelompok Gold Star Planners, melanjutkan pekerjaan setelah usia pensiun merupakan aspirasi pribadi yang dipengaruhi oleh tujuan hidup dan kesejahteraan. Data menunjukkan bahwa 60 persen dari kelompok ini memilih tetap aktif untuk menjaga identitas, sementara 83 persen lainnya menikmati aspek sosial serta aktivitas fisik dan mental dari pekerjaan mereka.

Sebaliknya, kelompok Stalled Starters bekerja karena tuntutan ekonomi. Sebanyak 71 persen responden dalam kategori ini menyatakan bahwa penghasilan tambahan sangat diperlukan untuk biaya hidup sehari-hari. Selain itu, 43 persen di antaranya harus menunda masa istirahat mereka guna menutupi biaya pendidikan atau kebutuhan anak-anak mereka.

Tren Penggunaan AI dalam Perencanaan Keuangan dan Peran Penasihat Ahli

Riset ini juga menyoroti pergeseran perilaku masyarakat dalam mencari informasi keuangan. Penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini meningkat signifikan dari 13 persen menjadi 30 persen. Namun, tren ini diikuti dengan penurunan konsultasi kepada lembaga perbankan yang turun dari 40 persen ke 31 persen, serta penasihat keuangan independen yang merosot dari 44 persen ke 31 persen.

Albertus Wiroyo menekankan bahwa meskipun AI sangat membantu sebagai titik awal pencarian informasi, teknologi tersebut seringkali kekurangan konteks dan personalisasi yang mendalam. “Pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,” ujar Albertus.

Advertisement

Keamanan Finansial dan Tantangan Generasi Sandwich

Keamanan finansial tetap menjadi inti dari optimisme menghadapi masa tua. Sebanyak 60 persen responden yang menantikan masa pensiun menyebutkan faktor keamanan finansial sebagai alasan utama, disusul oleh stabilitas hidup sebesar 46 persen. Namun, bagi mereka yang merasa gelisah, kekhawatiran terbesar adalah ketidakmampuan mendukung keluarga (44 persen) dan ketidakamanan finansial (37 persen).

Kondisi ini diperberat oleh tanggung jawab ganda yang dipikul oleh generasi sandwich. Berikut adalah dampak tekanan finansial pada perencanaan pensiun:

  • 40 persen individu terpaksa menurunkan ekspektasi gaya hidup mereka.
  • 23 persen individu harus menunda masa pensiun mereka.
  • Hanya 38 persen pekerja yang merasa sangat percaya diri dengan rencana masa tua yang mereka miliki.

Selain faktor ekonomi, kesehatan fisik dan mental turut memengaruhi aspirasi pensiun. Sebanyak 22 persen responden menyatakan bahwa kesehatan yang buruk menjadi alasan utama bagi mereka yang memutuskan untuk pensiun lebih awal. Albertus menutup dengan menegaskan bahwa perencanaan yang kuat dan komprehensif adalah kunci untuk mewujudkan kesejahteraan jangka panjang.

Informasi lengkap mengenai isu kesenjangan pensiun ini disampaikan melalui pernyataan resmi Sun Life Indonesia yang dirilis pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Advertisement