Hampir separuh warga Amerika Serikat meyakini bahwa Perang Dunia III berpotensi pecah dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis Politico Europe pada 2026, sekitar 46 persen responden menilai konflik global berskala besar tersebut berada pada kategori “mungkin” atau “sangat mungkin” terjadi.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan hasil survei pada tahun sebelumnya. Selain data dari Politico, penelitian lintas negara yang dilakukan oleh YouGov juga menemukan bahwa lebih dari 40 persen responden di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa memiliki kekhawatiran serupa terhadap stabilitas keamanan dunia.
Tren Kekhawatiran Global dan Data Survei
Lanskap global saat ini menunjukkan gejala fragmentasi yang serius di berbagai kawasan. Perang antara Rusia dan Ukraina yang belum menemui titik damai permanen menjadi salah satu faktor utama. Amerika Serikat tetap memegang peran sebagai pendukung utama Ukraina dengan menyalurkan bantuan militer dan finansial senilai miliaran dolar.
Di Timur Tengah, dukungan Washington terhadap Israel dalam konflik Gaza serta ketegangan berkepanjangan dengan Iran menciptakan potensi eskalasi regional yang tinggi. Ancaman balasan, serangan proksi, dan mobilisasi militer di kawasan Teluk memperbesar risiko kesalahan perhitungan yang dapat melibatkan kekuatan besar dunia.
Kebijakan Luar Negeri Agresif Amerika Serikat
Kondisi geopolitik semakin bergejolak seiring dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dinilai lebih agresif dan unilateral. Salah satu peristiwa paling kontroversial adalah invasi militer terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicol!s Maduro oleh pasukan Amerika.
Langkah tersebut dipandang oleh banyak analis sebagai bentuk intervensi langsung yang menghidupkan kembali pola politik luar negeri era lama melalui kekuatan militer. Selain itu, Trump kembali mengangkat gagasan akuisisi Greenland, wilayah otonom Denmark di Arktik, yang memicu ketegangan diplomatik dengan sekutu tradisional di Eropa.
Rivalitas dengan China dan Risiko Eskalasi
Di sisi lain, rivalitas antara Amerika Serikat dan China terus meningkat dalam berbagai sektor. Persaingan teknologi, pembatasan ekspor semikonduktor, konflik dagang, hingga isu sensitif terkait Taiwan dan Laut China Selatan membentuk kompetisi struktural jangka panjang yang sulit diredam.
Dunia kini menyaksikan beberapa titik panas yang saling terhubung, di mana Amerika Serikat bertindak sebagai aktor sentral dengan anggaran militer terbesar di dunia. Ketakutan publik Amerika dianggap sebagai bentuk kesadaran kolektif terhadap keterlibatan simultan negara tersebut di Eropa Timur, Timur Tengah, Amerika Latin, hingga kawasan Arktik.
Informasi mengenai persepsi publik dan kondisi geopolitik ini dihimpun berdasarkan hasil survei Politico Europe serta laporan situasi global yang dirilis hingga Februari 2026.
